Jakarta, Rakyatterkini.com – Danantara bersama Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) tengah menyiapkan langkah konsolidasi terhadap maskapai penerbangan milik negara dengan mengintegrasikan Pelita Air ke dalam Garuda Indonesia.
Chief Operating Officer (COO) Danantara yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa Garuda Indonesia akan berperan sebagai perusahaan induk (holding) bagi seluruh maskapai BUMN. Sementara itu, Pelita Air nantinya akan beroperasi sebagai bagian dari Garuda Group.
Menurut Dony, kebijakan tersebut diambil untuk memperkuat daya saing maskapai milik negara sehingga mampu bersaing lebih baik di industri penerbangan yang semakin kompetitif. Dengan berada dalam satu grup, sinergi antarperusahaan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas pangsa pasar.
Ia menambahkan, bisnis penerbangan merupakan sektor yang membutuhkan pengelolaan secara cermat dan berkelanjutan. Setiap penerbangan harus dipantau secara detail karena keuntungan maupun kerugian dapat dihitung sejak pesawat mulai beroperasi.
Oleh sebab itu, analisis terhadap rute penerbangan, konektivitas antardaerah, hingga tingkat okupansi menjadi aspek penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis maskapai.
Selain melakukan penyatuan bisnis, BP BUMN dan Danantara juga berupaya meningkatkan kualitas layanan di seluruh Garuda Group. Perbaikan akan dilakukan pada seluruh tahapan perjalanan penumpang, mulai dari layanan sebelum keberangkatan, saat berada di dalam pesawat, hingga setelah penerbangan selesai.
Peningkatan tersebut meliputi integrasi sistem penjualan tiket, penyempurnaan fasilitas lounge, peningkatan kenyamanan kabin, standar pelayanan awak pesawat, kualitas makanan dan minuman di dalam pesawat, pengembangan program loyalitas pelanggan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Melalui langkah tersebut, Garuda Group diharapkan mampu menjadi maskapai pilihan utama masyarakat Indonesia sekaligus memiliki daya saing yang lebih kuat di tingkat regional.
Program konsolidasi ini juga merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menata dan meningkatkan efisiensi perusahaan-perusahaan pelat merah.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa proses penggabungan, penutupan, dan konsolidasi sejumlah BUMN hingga 31 Juli 2026 diperkirakan telah menghasilkan penghematan anggaran negara sekitar Rp50 triliun. Efisiensi tersebut berasal dari berkurangnya berbagai biaya operasional, seperti gaji direksi dan komisaris, sewa gedung, biaya listrik, serta pengeluaran rutin lainnya.
Pemerintah menargetkan jumlah BUMN berkurang menjadi maksimal 350 perusahaan pada akhir 2026 dari sebelumnya mencapai 1.077 perusahaan. Presiden meyakini langkah tersebut dapat meningkatkan efisiensi sehingga potensi penghematan anggaran dapat mencapai Rp70 triliun hingga Rp80 triliun. Ia juga menilai kehadiran Danantara menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat tata kelola aset negara.(da*)


