Notification

×

Iklan

BMKG: El Nino Diprediksi Berlanjut hingga 2027

Jumat, 31 Juli 2026 | 09:22 WIB Last Updated 2026-07-31T02:22:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino masih akan berlangsung hingga awal kuartal pertama tahun 2027. Bahkan, intensitasnya diprediksi melampaui puncak kategori kuat sehingga berpotensi meningkatkan dampak kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa ancaman kekeringan dapat semakin besar apabila fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif turut terjadi pada periode September hingga Desember 2026.

Menurutnya, BMKG telah menyiapkan langkah mitigasi dengan memperkuat serta memperluas pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana hidrometeorologi secara terpadu di seluruh Indonesia.

Data BMKG hingga pertengahan Juli 2026 menunjukkan sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, 77 ZOM atau 11,8 persen masih berada pada musim hujan, sedangkan 113 ZOM atau 33,7 persen termasuk wilayah dengan pola satu musim.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dengan cakupan sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia. Kondisi tersebut masih berlanjut pada September dengan luas wilayah terdampak mencapai 25,41 persen.

BMKG juga mencatat adanya Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi bervariasi, mulai dari sangat pendek hingga panjang di sejumlah daerah. Rekor HTH terlama mencapai 80 hari yang terjadi di wilayah PRH Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Selain itu, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen wilayah daratan diperkirakan mengalami musim kemarau dengan durasi lebih panjang. Curah hujan dengan kategori tinggi baru diproyeksikan meningkat secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.

Kondisi cuaca yang semakin kering juga diperkirakan memicu meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi sebanyak 5.019 titik panas yang sebagian besar berada di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.

Menghadapi puncak musim kemarau pada Agustus hingga September, BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang memiliki risiko tinggi terjadinya karhutla seperti Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, serta Papua Selatan. BMKG juga terus memantau pergerakan asap akibat kebakaran hutan yang mulai terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update