Lubuk Basung, Rakyatterkini.com – Mengingat kembali bencana banjir bandang yang terjadi di Sumatra Barat pada November 2025, Yayasan Rangkiang Peduli Negeri (RPN) mengambil langkah konkret dengan menggelar program pemulihan lingkungan.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Kementerian Kehutanan, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), serta program Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Program penghijauan bertajuk “1011 Pohon Pulihkan Banjir Bandang Salareh Aia” digelar di kawasan Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak Minggu (7/6/2026) dengan membersihkan lahan dan menyiapkan lubang tanam. Selanjutnya, penanaman simbolis dilakukan pada Senin (8/6/2026) dan dihadiri oleh Staf Ahli Bupati Agam bidang Kemasyarakatan dan SDM, Taslim, bersama Camat Palembayan dan Wali Nagari Salareh Aia.
Dari total 1.011 bibit yang disiapkan, sebanyak 675 merupakan tanaman hutan pelindung, sedangkan 336 lainnya adalah pohon buah seperti alpukat dan rambutan yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan pangan masyarakat ke depan.
Chief Program Yayasan RPN, Fadhli Septavianra, menjelaskan bahwa angka 336 memiliki arti khusus sebagai bentuk penghormatan bagi para korban dan penyintas banjir bandang tersebut.
Menurutnya, jumlah tersebut melambangkan korban yang meninggal dunia maupun yang masih hilang. Ia berharap, hasil dari pohon-pohon yang ditanam nantinya dapat menjadi amal jariah bagi para korban.
Sementara itu, Ketua Yayasan RPN, Zeng Welf, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk pemulihan jangka panjang yang berkelanjutan, tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga kondisi masyarakat pascabencana.
Ia menambahkan bahwa manfaat dari pohon yang ditanam diharapkan mampu membantu pemulihan fisik sekaligus mental warga terdampak.
Menariknya, program ini juga melibatkan para penyintas yang saat ini tinggal di hunian sementara (huntara) untuk ikut serta dalam proses penanaman.
Wali Nagari Salareh Aia, Rijal Islami, menyampaikan apresiasinya terhadap program tersebut. Ia menilai keterlibatan warga tidak hanya berdampak pada pemulihan lingkungan, tetapi juga memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.
Menurutnya, kegiatan ini sangat membantu karena selain menghijaukan kembali wilayah, juga memberi manfaat ekonomi langsung bagi warga yang terdampak bencana.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat, penanaman 1.011 pohon ini diharapkan menjadi awal kebangkitan lingkungan di Salareh Aia. Selain itu, kawasan hijau yang terbentuk nantinya juga diharapkan mampu menjadi benteng alami untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang.(da*)


