Notification

×

Iklan

Prosesi Tabuik Pariaman 2026 Berubah, Lokasi Manabang Dipindah

Minggu, 21 Juni 2026 | 00:44 WIB Last Updated 2026-06-20T21:14:53Z

Manabang Batang Pisang, Prosesi Kedua Menuju Puncak Hoyak Tabuik 

Pariaman, Rakyatterkini.com – Rangkaian kedua dalam agenda “Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026” di Kota Pariaman menghadirkan sejumlah perbedaan dibanding pelaksanaan sebelumnya. Tahapan ini dikenal dengan prosesi Manabang Batang Pisang atau penebangan batang pisang sebagai bagian dari pembuatan Tabuik.

Tradisi menebang batang pisang dengan satu kali tebasan memiliki makna simbolis, yang menggambarkan ketajaman senjata pasukan Yazid bin Umaiyah dalam peristiwa Perang Karbala, ketika cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali, gugur.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pariaman, Ferialdi, menjelaskan bahwa pada tahun 2026 terdapat perubahan pada lokasi dan waktu pelaksanaan prosesi tersebut. Jika sebelumnya kegiatan untuk Tabuik Pasa digelar di Kelurahan Alai Gelombang dan Tabuik Subarang di Kelurahan Lohong, kini keduanya dipindahkan ke rumah tabuik masing-masing.

Ia merinci, penebangan batang pisang untuk Tabuik Pasa justru dilakukan di rumah Tabuik Subarang setelah salat Asar. Sebaliknya, prosesi untuk Tabuik Subarang dilaksanakan di rumah Tabuik Pasa usai salat Magrib. Perubahan ini menjadi pembeda utama dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Ferialdi, pertukaran lokasi tersebut bukan hal baru, melainkan bagian dari tradisi lama yang bertujuan memicu prosesi basalisiah atau semacam perselisihan simbolis antara dua kelompok, yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, saat bertemu di satu titik.

Agenda basalisiah dijadwalkan berlangsung setelah salat Isya, sekitar pukul 20.00 WIB, di kawasan Simpang Kampung Cino atau Simpang Tabuik Pariaman. Untuk menjaga keamanan, pihak penyelenggara telah berkoordinasi dengan aparat agar kegiatan berjalan tertib.

Ferialdi menegaskan, meski terlihat seperti konflik, basalisiah sejatinya hanya simbol kebersamaan. Kedua kelompok tetap bersaudara dan akan kembali rukun setelah prosesi pembuangan tabuik ke laut, tanpa menyisakan permusuhan.

Ia juga berharap pelaksanaan budaya Tabuik dapat memperkuat daya tarik wisata Kota Pariaman. Menurutnya, kegiatan ini tidak mengandung unsur keagamaan, terbukti dari penghentian seluruh rangkaian acara saat waktu salat tiba dan dilanjutkan kembali setelahnya. Tradisi ini pun akan terus dijaga sebagai bagian dari warisan budaya sekaligus penunjang sektor pariwisata daerah.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update