Payakumbuh, Rakyatterkini.com — Jika di Madura terkenal dengan tradisi karapan sapi, maka masyarakat Sumatera Barat juga memiliki atraksi serupa yang dikenal sebagai Pacu Jawi. Tradisi turun-temurun ini masih terus dijaga hingga sekarang sebagai bagian dari warisan budaya Minangkabau.
Pacu Jawi biasanya digelar menjelang masa tanam padi oleh masyarakat agraris di Sumatera Barat. Berbeda dengan karapan sapi yang dilakukan di lintasan tanah kering, Pacu Jawi justru berlangsung di area sawah berlumpur yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun fotografer.
Sapi yang digunakan dalam perlombaan ini adalah sapi lokal yang dipelihara secara khusus oleh peternak setempat. Selain menjadi hiburan rakyat, Pacu Jawi juga berfungsi sebagai ajang untuk menilai kualitas ternak yang dimiliki masyarakat.
Di Sumatera Barat sendiri, Pacu Jawi memiliki dua bentuk pelaksanaan yang berbeda. Di Kabupaten Tanah Datar, joki berdiri di atas alat bajak yang ditarik oleh sepasang sapi yang berlari di lumpur sawah.
Sementara itu, di wilayah Lima Puluh Kota dan Tanah Datar, joki biasanya berlari sambil memegang langsung sapi yang melaju cepat di area persawahan berlumpur.
Dalam perlombaan ini, kecepatan dan kekuatan sapi harus diimbangi dengan kemampuan joki dalam menjaga keseimbangan. Peserta yang terjatuh sebelum mencapai garis akhir akan dinyatakan gugur.
Risiko cedera menjadi hal yang tidak bisa dihindari dalam tradisi ini. Meski demikian, Pacu Jawi tetap diminati karena dianggap sebagai simbol keberanian, ketangkasan, sekaligus kebanggaan masyarakat setempat.
Salah satu joki, Rizki Aldo Putra, mengungkapkan tantangan terbesar dalam lomba ini adalah harus berlari seirama dengan sapi di tengah kondisi lumpur yang licin dan rawan membuat cedera.
Bagi para peternak, Pacu Jawi juga menjadi ajang prestisius. Selain memperebutkan hadiah, sapi yang berhasil menjadi juara biasanya memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan sapi biasa.
Hingga saat ini, Pacu Jawi tidak hanya dipandang sebagai tradisi budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau kepada masyarakat luas.
Panitia kegiatan, Zulfajri, menyebutkan tradisi ini digelar sebagai penyemangat menjelang masa tanam padi sekaligus meningkatkan semangat peternak, serta turut mendorong kenaikan nilai ekonomi ternak di daerah tersebut.(da*)


