Jakarta, Rakyatterkini.com– Aktivitas Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan pada Jumat pagi (12/6/2026). Gunung yang berada di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut terpantau mengeluarkan awan panas guguran.
Menurut laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), fenomena tersebut terjadi sekitar pukul 06.16 WIB. Awan panas meluncur sejauh kurang lebih 2 kilometer ke arah barat daya, mengikuti aliran hulu Kali Sat dan Kali Putih. Durasi kejadian tercatat hampir dua menit dengan amplitudo maksimum mencapai 57,72 mm.
Selain awan panas, aktivitas vulkanik Merapi juga ditandai dengan guguran lava pijar. Dalam periode pengamatan tengah malam hingga pagi hari, petugas mencatat sebanyak 10 kali guguran lava yang mengarah ke Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2 kilometer.
Dari sisi kegempaan, aktivitas gunung ini masih tergolong tinggi. Tercatat 49 kali gempa guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 40 mm dan durasi berkisar 24 hingga 193 detik. Selain itu, terjadi pula 31 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta satu gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo mencapai 50 mm.
Secara visual, puncak Merapi tidak terlihat jelas karena tertutup kabut dengan kondisi cuaca berawan. Selama periode pengamatan, asap dari kawah juga tidak tampak.
Hingga kini, status aktivitas Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. BPPTKG menyebutkan bahwa potensi bahaya saat ini meliputi guguran lava dan awan panas yang berpotensi terjadi di sektor selatan hingga barat daya. Wilayah yang terdampak antara lain Sungai Boyong dengan jangkauan maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Untuk sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro dengan jarak maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, material vulkanik dapat terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG juga mengungkapkan bahwa suplai magma ke dalam tubuh gunung masih berlangsung, yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di area rawan bahaya.
Masyarakat di sekitar Merapi diimbau untuk tidak beraktivitas di wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya. Selain itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar hujan dan awan panas, terutama saat turun hujan. Risiko gangguan akibat abu vulkanik juga perlu diantisipasi apabila terjadi erupsi.(da*)


