Jakarta, Rakyatterkini.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menanggapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green 95. Ia menyampaikan bahwa pemerintah akan terus memantau dampak dari penyesuaian harga tersebut terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Tito menjelaskan bahwa perubahan harga BBM pada dasarnya akan berpengaruh ke berbagai daerah. Namun, saat ini tingkat inflasi masih tercatat berada di angka 3,08 persen.
“Sekarang yang saya tahu inflasi 3,08 persen. Nanti kita lihat dan monitoring bagaimana dampaknya. Hasilnya akan kita evaluasi, dan akan diumumkan BPS pada bulan Juli,” ujar Tito saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu malam (10/6/2026).
Sebelumnya diketahui, harga Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. PT Pertamina (Persero) menyebut penyesuaian ini mengikuti ketentuan yang berlaku untuk BBM non-subsidi.
Di sisi lain, sejumlah jenis BBM lain tidak mengalami perubahan harga. Pertamax Turbo (RON 98) tetap di harga Rp20.750 per liter, Dexlite bertahan di Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex masih di angka Rp24.800 per liter.
Untuk BBM bersubsidi, harga juga tidak berubah. Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar subsidi tetap Rp6.800 per liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi merupakan bagian dari penerapan tata kelola energi. Kebijakan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis, kualitas layanan, serta ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat.(da*)


