Notification

×

Iklan

Jam Gadang 100 Tahun, Mitos Putih Telur Kembali Dibahas

Senin, 22 Juni 2026 | 22:43 WIB Last Updated 2026-06-22T15:43:00Z

100 Tahun Jam Gadang: Mitos Dibangun dengan Putih Telur 

Bukittinggi, Rakyatterkini.com – Keyakinan yang telah lama beredar di masyarakat Jam Gadang dibangun menggunakan putih telur sebagai bahan perekat utama kembali mencuri perhatian dalam sebuah seminar internasional bertema “Memperkuat Hubungan Diplomatik Indonesia–Belanda melalui Jembatan Persahabatan Bukittinggi–Amsterdam”.

Kegiatan tersebut digelar di Bung Hatta Convention Hall, Bukittinggi, pada Sabtu (20/6/2026), dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Jam Gadang. 

Seminar ini menghadirkan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon sebagai pembicara kunci, serta sejumlah narasumber seperti Rektor Universitas YARSI Fasli Jalal, diplomat Kementerian Luar Negeri Albert Abdi, dan ahli Kementerian Pariwisata Nia Niscaya. Diskusi dipandu oleh Direktur Eksekutif Pusat Studi ASEAN Universitas Andalas, Muhammad Yusra.

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, dalam sambutannya menegaskan kota ini memiliki nilai sejarah penting dalam perjalanan bangsa. Ia menyebut sejarah bukan sekadar untuk dikenang, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran dan modal dalam memperkuat hubungan kerja sama internasional, termasuk dengan Belanda.

Ia juga menawarkan berbagai peluang kolaborasi global, seperti digitalisasi arsip sejarah Indonesia–Belanda, penguatan jejaring riset internasional, pertukaran pelajar dan akademisi, pengembangan museum berbasis digital, penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya, pengembangan wisata sejarah, hingga rencana forum tahunan kota-kota bersejarah dunia di Bukittinggi.

Dari pihak Belanda, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, melalui pesan video menyampaikan bahwa Bukittinggi memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, termasuk pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). 

Ia juga menegaskan hubungan Belanda dan Indonesia, khususnya Minangkabau, terus terjalin melalui jalur pendidikan, budaya, dan ekonomi. Dalam pandangannya, Jam Gadang menjadi simbol persahabatan yang telah menyaksikan berbagai peristiwa penting selama satu abad.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon memberikan apresiasi atas inisiatif Pemerintah Kota Bukittinggi yang menggelar peringatan 100 tahun Jam Gadang. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat kesadaran sejarah, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi serta memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa Jam Gadang merupakan simbol perjalanan sejarah Minangkabau sekaligus bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bukittinggi, kata dia, juga memiliki posisi strategis sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), sehingga identitas sebagai kota perjuangan perlu terus diperkuat.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan PT Semen Padang, Iskandar Z. Lubis, memberikan perspektif berbeda terkait bangunan ikonik tersebut. Ia menilai keistimewaan Jam Gadang bukan terletak pada berbagai cerita yang berkembang di masyarakat, melainkan pada ketahanannya menghadapi usia hampir satu abad di wilayah yang rawan gempa.

Menurutnya, Sumatera Barat berada di kawasan seismik aktif, sehingga kemampuan bangunan bertahan lama merupakan hal yang luar biasa. Ia menekankan ketahanan tersebut menunjukkan kualitas perencanaan dan teknologi konstruksi yang digunakan pada masa itu.

Iskandar juga menyoroti anggapan seperti penggunaan putih telur maupun klaim bahwa Jam Gadang merupakan “kembaran Big Ben” lebih tepat dipahami sebagai mitos. Ia menegaskan bahwa kekuatan sebenarnya bangunan tersebut adalah bukti kemajuan teknologi konstruksi pada zamannya.

Ia merujuk pada hasil penelitian berjudul The Construction and Structural Reliability of Jam Gadang oleh Khadavi dan Yulcherlina dari Universitas Bung Hatta (Jurnal Rekayasa Konstruksi Mekanika Sipil, 2018). 

Penelitian itu dilakukan pascagempa besar Sumatera 2007 dan 2009 yang merusak banyak bangunan tua di sekitar lokasi, namun Jam Gadang tetap berdiri kokoh.

Hasil kajian tersebut menyebutkan bangunan Jam Gadang menggunakan teknologi beton bertulang, lengkap dengan struktur baja pada kolom, balok, hingga pelat lantai. Kuat tekan betonnya diperkirakan mencapai sekitar 25 MPa, angka yang tergolong tinggi bahkan jika dibandingkan standar konstruksi modern.

Iskandar menilai capaian tersebut menunjukkan teknologi konstruksi pada tahun 1926 sudah cukup maju. Ia juga menduga adanya kemungkinan penggunaan semen, mengingat PT Semen Padang telah berdiri sejak 1910 di Indarung, Padang, sehingga secara historis memungkinkan material tersebut sudah digunakan.

Ia menambahkan temuan ini tidak hanya penting untuk meluruskan sejarah, tetapi juga dapat menjadi dasar pengembangan wisata edukasi dan industri sejarah di Sumatera Barat.

Lebih jauh, ia mengusulkan pengembangan konsep wisata warisan budaya terpadu yang menghubungkan Jam Gadang dengan kawasan bersejarah lain seperti tambang batu bara Ombilin Sawahlunto, pabrik Indarung I di Padang, serta Pelabuhan Teluk Bayur sebagai jalur perdagangan utama masa lalu. 

Dengan konsep tersebut, wisatawan dapat memahami rangkaian sejarah industrialisasi Sumatera Barat secara utuh.

Penelitian yang dikutip juga menyimpulkan beberapa hal penting, antara lain bahwa Jam Gadang terbukti aman secara struktur pascagempa besar, tidak mengalami kerusakan serius, pondasinya masih stabil, dan tidak memerlukan penguatan struktur utama. 

Fokus konservasi lebih diarahkan pada perlindungan elemen arsitektur serta pengendalian beban dan jumlah pengunjung.

Selain itu, Iskandar juga meluruskan anggapan Jam Gadang berkaitan dengan Big Ben. Ia menjelaskan bahwa kedua menara jam tersebut dibuat oleh produsen berbeda, sehingga tidak memiliki keterkaitan langsung. 

Mesin Jam Gadang dibuat oleh perusahaan Benhard Vortmann di Jerman, sedangkan Big Ben diproduksi oleh Dent & Co. di Inggris.

Ia juga menambahkan penulisan angka Romawi “IIII” pada jam bukanlah kesalahan, melainkan bagian dari tradisi estetika jam klasik Eropa yang lazim digunakan untuk keseimbangan visual.

Menanggapi hal tersebut, Nia Niscaya dari Kementerian Pariwisata menyebut bahwa penjelasan tersebut menjadi masukan berharga untuk memperkaya wawasan sejarah dan pariwisata ke depan.

Di sisi lain, cerita penggunaan putih telur sebagai bahan bangunan Jam Gadang selama ini lebih banyak berkembang sebagai cerita rakyat yang diwariskan secara lisan. Meski populer, berbagai kajian ilmiah menempatkannya sebagai bagian dari folklor, bukan fakta teknis pembangunan.

Sejarah lokal justru mencatat peran besar masyarakat dalam pembangunan Jam Gadang, termasuk kontribusi pembuat batu bata tradisional yang menggunakan tanah liat dan teknik pengolahan sederhana dengan bantuan hewan ternak. Setiap bata bahkan diuji kualitasnya secara manual untuk memastikan kekuatan terbaik sebelum digunakan.

Memasuki usia satu abad pada 2026, Jam Gadang tetap berdiri sebagai ikon utama Kota Bukittinggi sekaligus saksi perkembangan teknologi konstruksi di Indonesia. Menara setinggi sekitar 28 meter itu telah melewati berbagai gempa besar di Sumatera Barat tanpa kehilangan ketahanannya.

Diskusi dalam seminar tersebut pada akhirnya menegaskan pentingnya membangun pemahaman sejarah berdasarkan kajian ilmiah, agar warisan budaya tidak hanya hidup dalam cerita turun-temurun, tetapi juga dipahami melalui bukti, penelitian, dan perkembangan ilmu pengetahuan. (da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update