Notification

×

Iklan

Jalur Lembah Anai Kembali Disorot, Jalur Lama Muncul

Rabu, 03 Juni 2026 | 08:48 WIB Last Updated 2026-06-03T01:50:43Z

Pengerjaan perbaikan jalan di Lembah Anai. 

Padang Pariaman, Rakyatterkini.com – Isu mengenai kemungkinan penutupan Jalan Lembah Anai kini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. 

Di tengah wacana tersebut, muncul kembali pembahasan tentang jalur alternatif peninggalan masa kolonial Belanda yang dinilai berpotensi menjadi solusi untuk mengurangi risiko bencana banjir bandang.

Jalur lama era kolonial itu diketahui menghubungkan kawasan pesisir Pariaman melalui Kayu Tanam menuju Tambangan di Batipuh, Kabupaten Tanah Datar. 

Selain memiliki nilai sejarah, jalur ini juga dianggap menyimpan potensi strategis yang perlu dikaji lebih lanjut sebagai alternatif konektivitas antara wilayah pesisir dan dataran tinggi Minangkabau.

Praktisi Geographic Information System (GIS) Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta, menjelaskan keberadaan jalur tersebut bukan sekadar cerita yang berkembang di masyarakat, melainkan juga memiliki dasar dalam catatan sejarah kolonial.

Sejumlah dokumen mencatat koridor tersebut sudah dikenal dan digunakan jauh sebelum pembangunan Jalan Lembah Anai oleh pemerintah kolonial Belanda pada sekitar tahun 1830-an.

“Secara historis terdapat catatan mengenai jalur yang menghubungkan wilayah pesisir Pariaman melalui Kayu Tanam menuju Tambangan di Batipuh lewat kawasan Bukit Ambacang. Jalur ini sudah ada sebelum pembangunan Jalan Lembah Anai,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).

Dalam beberapa literatur kolonial seperti karya E.B. Kielstra dalam Sumatra’s Westkust 1819–1825 serta H.M. Lange dalam Het Nederlandsch Oost-Indisch Leger ter Westkust van Sumatra, disebutkan bahwa pada masa Perang Paderi pemerintah Belanda mencari akses ke pedalaman Minangkabau melalui jalur lain selain rute tradisional yang sudah ada.

“Salah satu jalur yang kemudian dimanfaatkan dan diperbaiki adalah rute Kayu Tanam–Bukit Ambacang–Tambangan,” tambahnya.

Secara historis, jalur ini memiliki peran penting sebagai penghubung antara wilayah pesisir barat dan dataran tinggi Minangkabau sebelum Lembah Anai menjadi jalur utama transportasi.

Timtim menilai, kejadian banjir bandang atau galodo yang kerap terjadi di kawasan Lembah Anai menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur seharusnya mempertimbangkan kondisi alam serta potensi bencana, bukan hanya aspek jarak dan efisiensi perjalanan.

“Setiap jalur transportasi memiliki risiko masing-masing. Namun secara karakter geomorfologi dan hidrologi, koridor Kayu Tanam–Bukit Ambacang–Tambangan berbeda dengan Lembah Anai,” jelasnya.

Saat ini, jalur tersebut sudah tidak lagi berfungsi sebagai akses transportasi modern. Sebagian besar wilayah yang dulunya menjadi lintasan masih berupa perbukitan dan kawasan hutan, tanpa adanya jalan nasional maupun kabupaten yang mengikuti rute tersebut secara utuh.

Berdasarkan data citra satelit dan topografi, kawasan Bukit Ambacang hingga Tambangan masih didominasi hutan, lembah kecil, dan perbukitan alami. Secara fisik, jalur tersebut masih dapat dikenali, namun belum berkembang menjadi infrastruktur jalan.

Dari sisi kebencanaan, ia menjelaskan terdapat perbedaan signifikan antara Lembah Anai dan jalur alternatif tersebut. Lembah Anai berada di lembah sungai besar dengan kontur curam dan menerima aliran air dari beberapa hulu sekaligus, yaitu Gunung Marapi, Singgalang, dan Tandikek.

“Kondisi ini membuat volume air saat hujan ekstrem sangat besar. Material seperti batu, kayu, dan sedimen dari beberapa hulu dapat terkumpul di satu jalur sehingga meningkatkan risiko banjir bandang,” katanya.

Sementara itu, jalur Kayu Tanam–Bukit Ambacang–Tambangan tidak berada dalam sistem lembah utama yang menerima aliran dari ketiga gunung tersebut. Aliran air di wilayah ini lebih banyak berasal dari perbukitan lokal.

Meski demikian, risiko bencana tetap ada, terutama berupa longsor akibat kondisi lereng yang curam. Namun, potensi terjadinya banjir bandang dalam skala besar dinilai lebih rendah dibanding Lembah Anai.

“Wilayah ini bukan tanpa risiko, longsor tetap perlu diwaspadai. Namun secara hidrologi, tingkat ancaman galodo besar relatif lebih kecil,” ujarnya.

Ia juga menyinggung bahwa jalur Kayu Tanam–Tambangan sempat masuk dalam kajian rencana trase lanjutan pembangunan Tol Sicincin–Bukittinggi, yang menunjukkan bahwa kawasan tersebut dinilai layak untuk diteliti lebih lanjut dari berbagai aspek teknis dan kebencanaan.

Menurutnya, keputusan akhir tetap berada pada kajian pemerintah, namun secara geografis jalur ini bisa menjadi alternatif penting untuk meningkatkan konektivitas Sumatera Barat.

Dengan karakter alam yang berbeda dari Lembah Anai, jalur tersebut dianggap memiliki potensi sebagai opsi pengembangan infrastruktur masa depan yang lebih aman.

Sebelumnya, wacana penutupan Jalan Lembah Anai muncul dari pendapat tokoh pers Sumbar, Khairul Jasmi. Ia mempertanyakan apakah kawasan tersebut masih layak dipertahankan mengingat risiko galodo yang terus berulang.

Ia juga merujuk pada tulisan Novelia Musda yang mengangkat kembali keberadaan jalur historis Kayu Tanam–Tambangan sebagai alternatif lama yang pernah digunakan sejak masa kolonial.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa sebelum Jalan Lembah Anai dibangun pada 1833, jalur Bukit Ambacang sudah digunakan sebagai rute utama menuju pedalaman Minangkabau, bahkan pernah dilalui pengangkutan peralatan militer Belanda.

Pada masa itu, sejumlah ahli Belanda bahkan menilai kawasan Lembah Anai sangat sulit dijadikan jalur transportasi. Namun pembangunan tetap dilakukan atas perintah pemerintah kolonial, dan kemudian juga digunakan untuk jalur rel kereta api.

Akibatnya, jalur sempit di Lembah Anai kini menjadi kawasan yang rawan bencana, baik longsor maupun banjir bandang.

Khairul Jasmi menilai ada pelajaran penting dari sejarah tersebut. Menurutnya, Lembah Anai merupakan pilihan kolonial yang dulu didasarkan pada kepentingan tertentu, sementara masyarakat lokal sebenarnya memiliki jalur alternatif lain yang lebih aman.

Ia juga menyoroti bahwa berbagai kajian geologi dan topografi kawasan Sumatera Barat sudah tersedia sejak lama, namun belum dimanfaatkan secara optimal dalam perencanaan pembangunan.

Karena itu, ia mengusulkan agar jalur Kayu Tanam–Tambangan kembali dipertimbangkan sebagai alternatif, setidaknya melalui kajian lebih lanjut, bahkan kemungkinan penutupan sementara Lembah Anai sambil menyiapkan jalur pengganti.

Dengan semakin seringnya bencana galodo terjadi di kawasan tersebut, ia menilai sudah saatnya mempertimbangkan kembali opsi yang pernah digunakan nenek moyang sebagai jalur utama penghubung wilayah pesisir dan pedalaman.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update