Padang, Rakyatterkini.com — Provinsi Sumatera Barat mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 3,91 persen pada Mei 2026. Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, terutama bahan pangan serta es perhiasan, menjadi faktor utama yang mendorong laju inflasi di daerah tersebut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat, kenaikan inflasi tersebut sejalan dengan meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,69 pada Mei 2025 menjadi 112,94 pada Mei 2026.
Kepala BPS Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, menyampaikan bahwa inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar.
“Pada Mei 2026, Sumatera Barat mencatat inflasi year-on-year sebesar 3,91 persen. Kenaikan harga terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan kontribusi terbesar,” ujar Nurul dalam keterangan resmi BPS Sumbar, Selasa (2/6/2026).
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami inflasi sebesar 6,24 persen dan memberikan andil 2,06 persen terhadap inflasi tahunan di Sumbar. Sejumlah komoditas yang mendorong kenaikan harga antara lain beras, cabai merah, minyak goreng, daging ayam ras, bawang merah, ikan cakalang, ikan nila, kangkung, hingga jengkol.
Selain itu, lonjakan harga emas perhiasan juga turut menjadi pendorong inflasi, terutama pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi hingga 10,48 persen.
“Komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, beras, cabai merah, minyak goreng, daging ayam ras, bawang merah, serta tarif angkutan udara,” tambah Nurul.
Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi sebesar 3,63 persen. Adapun sektor transportasi naik 2,79 persen, dipengaruhi oleh kenaikan tarif angkutan udara serta biaya transportasi lainnya.
Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Sumatera Barat juga mengalami inflasi sebesar 0,90 persen pada Mei 2026, dengan cabai merah sebagai penyumbang terbesar. Komoditas lain seperti bawang merah, tomat, minyak goreng, kangkung, bayam, serta tarif angkutan udara juga ikut mengalami kenaikan harga.
Hingga Mei 2026, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) di Sumatera Barat tercatat sebesar 0,47 persen.
BPS mencatat seluruh daerah dalam cakupan IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Dharmasraya menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi sebesar 5,31 persen, diikuti Kabupaten Pasaman Barat 4,61 persen dan Kota Bukittinggi 3,73 persen. Sementara itu, Kota Padang mencatat inflasi terendah yakni 3,52 persen.
Nurul menegaskan bahwa stabilitas harga pangan serta kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok perlu terus dijaga agar inflasi tetap terkendali di periode mendatang.
“Kelancaran pasokan dan distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga, terutama untuk komoditas pangan yang sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat,” pungkasnya.(da*)


