Pessel, Rakyatterkini.com - Pemerintah melalui PT Hutama Karya (Persero) mempercepat pelaksanaan proyek tanggap darurat sekaligus rehabilitasi infrastruktur air bersih di wilayah Sumatera Barat.
Upaya ini difokuskan pada perbaikan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) pascabencana di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, dan Kota Padang dengan melibatkan metode swakelola serta kerja sama dengan mitra lokal.
Langkah percepatan tersebut bertujuan untuk memulihkan kembali distribusi air bersih bagi masyarakat yang terdampak parah akibat bencana banjir bandang.
Bencana yang terjadi pada November 2025 lalu menyebabkan kerusakan serius pada jaringan perpipaan utama serta fasilitas milik PDAM dan program air minum berbasis masyarakat di sejumlah wilayah.
Kerusakan ini berdampak besar karena jaringan distribusi air memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat sekaligus menjaga kesehatan lingkungan.
Secara rinci, kerusakan terjadi di tiga wilayah utama. Di Kabupaten Agam terdapat 6 SPAM PDAM dan 8 SPAM perdesaan yang terdampak. Di Pesisir Selatan, kerusakan meliputi 6 SPAM PDAM dan 2 SPAM perdesaan. Sementara di Kota Padang, terdapat kerusakan pada 6 SPAM PDAM, 1 SPAM milik Universitas Andalas, serta 5 titik sumur bor.
Hasil kajian teknis menunjukkan adanya beberapa titik dengan tingkat kerusakan yang sangat parah sehingga membutuhkan penanganan khusus. Di Kota Padang, salah satu kerusakan terbesar terjadi di SPAM Palukahan, di mana pipa transmisi berdiameter 400 mm sepanjang sekitar 1 kilometer mengalami kerusakan, termasuk bagian lain sepanjang 200 meter di wilayah Balai Gadang. Selain itu, bendung di SPAM Guo Kuranji juga mengalami kerusakan signifikan.
Di Kabupaten Agam, selain jaringan pipa SPAM Batu Kambing yang terputus, terdapat kebutuhan mendesak untuk membangun jaringan perpipaan guna mendukung enam lokasi hunian sementara. Hal serupa juga dibutuhkan di dua lokasi hunian sementara di Pesisir Selatan.
Menanggapi kondisi tersebut, tim Hutama Karya bergerak cepat dengan membagi pekerjaan secara paralel. Untuk wilayah kabupaten, pengerjaan dilakukan melalui subkontraktor yang didukung tim survei dan tenaga teknis yang memiliki mobilitas tinggi. Sementara di Kota Padang, pekerjaan dilakukan secara swakelola.
Pada titik kritis seperti Guo Kuranji, dilakukan pembangunan bendung sementara menggunakan material geotekstil berlapis dan diperkuat dengan batu besar agar aliran air tetap dapat masuk ke instalasi pengolahan. Di lokasi Batu Kambing, pipa yang sempat hanyut berhasil ditemukan dan dipasang kembali.
Meski metode pengerjaan tergolong konvensional, tantangan terbesar justru berasal dari kondisi geografis dan logistik, terutama di wilayah Agam dan Pesisir Selatan. Lokasi yang sulit dijangkau membuat distribusi material harus dilakukan secara manual. Selain itu, keterbatasan tenaga terampil lokal diatasi dengan mendatangkan pekerja berpengalaman dari luar untuk berbagi keahlian.
Dalam pelaksanaannya, Hutama Karya juga berupaya menjaga dampak lingkungan seminimal mungkin, seperti membersihkan jalan dari sisa galian serta menutup kembali area pekerjaan yang melewati lahan warga.
Hasil dari percepatan ini mulai dirasakan masyarakat. Sebanyak 399 kepala keluarga di hunian sementara kini telah kembali mendapatkan akses air bersih. Selain itu, perbaikan jaringan di Palukahan dan Balai Gadang berhasil memulihkan pasokan air bagi lebih dari 21 ribu sambungan rumah dalam waktu kurang dari satu bulan. Sementara itu, penanganan darurat di Guo Kuranji mampu menjaga pasokan untuk lebih dari 6 ribu pelanggan.
Keberhasilan ini tidak lepas dari koordinasi intensif antara Hutama Karya dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sumatera Barat, serta dukungan dari konsultan konstruksi dan PDAM setempat. Proyek ini juga melibatkan tenaga kerja lokal yang mencapai sekitar 65 persen dari total pekerja.
Seluruh proses rehabilitasi ini ditargetkan selesai pada 22 Desember 2026, dengan standar desain yang memperhitungkan ketahanan terhadap banjir dalam jangka panjang.
Plt EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menyatakan bahwa proyek ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam membantu pemulihan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana. Ia menegaskan bahwa kecepatan respons dan kolaborasi dengan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan.
Menurutnya, penanganan di titik-titik kritis seperti Palukahan dan Guo Kuranji telah mempercepat normalisasi distribusi air bersih bagi puluhan ribu pelanggan. Ia juga menambahkan bahwa tantangan di lapangan terus diatasi dengan strategi yang adaptif, termasuk melibatkan tenaga lokal.
Hamdani berharap infrastruktur yang telah diperbaiki dapat dikelola dengan baik oleh masyarakat bersama PDAM agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.(da*)


