Notification

×

Iklan

Google Rencanakan Lepas 32 Juta Nyamuk Rekayasa Genetik

Senin, 01 Juni 2026 | 11:45 WIB Last Updated 2026-06-01T06:28:03Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Google disebut tengah merencanakan pelepasan hingga 32 juta nyamuk yang telah dimodifikasi secara genetik. Namun, rencana tersebut masih menunggu persetujuan dari pemerintah federal Amerika Serikat.

Proposal ini saat ini sedang dievaluasi oleh Environmental Protection Agency (EPA) dan merupakan bagian dari program bernama “Debug”. Inisiatif yang sudah berjalan lebih dari 10 tahun itu bertujuan mengembangkan metode baru untuk menekan populasi nyamuk penyebar penyakit.

Jika mendapatkan izin, jutaan nyamuk tersebut akan dilepaskan di wilayah California dan Florida dalam kurun dua tahun ke depan. Nyamuk-nyamuk itu telah dibekali bakteri Wolbachia yang dapat membuat nyamuk jantan menjadi tidak subur ketika kawin dengan betina.

Para ilmuwan menjelaskan karena hanya nyamuk betina yang menggigit manusia, pelepasan nyamuk jantan ini tidak akan meningkatkan jumlah gigitan terhadap manusia.

“Ini konsep yang sangat baik, dan kami akan menerapkannya untuk melihat apakah metode ini benar-benar berhasil,” ujar Chad Huff, petugas informasi publik Florida Keys Mosquito Control District, seperti dikutip WCNC, Senin (1/6/2026).

Peneliti menyebutkan program ini menargetkan jenis nyamuk Culex, yang dikenal sebagai pembawa virus West Nile dan ensefalitis St. Louis. Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus West Nile merupakan penyakit yang paling banyak ditularkan oleh nyamuk di Amerika Serikat.

Teknologi bakteri Wolbachia sendiri merupakan metode pengendalian populasi nyamuk tanpa menggunakan pestisida. Saat nyamuk jantan yang terinfeksi kawin dengan betina, mereka tidak menghasilkan keturunan sehingga populasi dapat ditekan secara alami.

Huff menambahkan metode ini sebelumnya sudah diuji di wilayah Florida Keys selama dua tahun terakhir dan menunjukkan hasil yang cukup positif, termasuk penurunan jumlah nyamuk di beberapa area uji coba.

“Hasil uji coba tahun lalu cukup menjanjikan, sehingga kami ingin terus mempelajarinya pada musim ini,” katanya.

EPA masih membuka ruang komentar publik terhadap proposal tersebut hingga 5 Juni sebelum memutuskan apakah proyek ini akan mendapat izin uji coba atau tidak.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update