Notification

×

Iklan

Fadli Zon Usulkan Indarung Biennale di Pabrik Indarung I

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15 WIB Last Updated 2026-06-25T10:15:00Z

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon saat menjadi pembicara utama 

Padang, Rakyatterkini.com – Upaya mengubah kawasan bersejarah industri menjadi pusat kegiatan seni dan budaya kelas dunia mulai mendapatkan perhatian serius. 

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengusulkan pengembangan kawasan Pabrik Indarung I milik PT Semen Padang sebagai pusat kebudayaan yang memiliki daya tarik nasional hingga internasional.

Salah satu program yang diwacanakan adalah penyelenggaraan pameran seni dua tahunan bernama Indarung Biennale, yang diharapkan mampu menghadirkan karya-karya seniman dari berbagai negara ke Kota Padang.

Gagasan tersebut disampaikan dalam Simposium Pabrik Indarung I yang berlangsung di Wisma Indarung PT Semen Padang pada Minggu (21/6/2026). Mengangkat tema Masa Depan Cagar Budaya Pabrik Indarung I, kegiatan ini dihadiri Direktur Utama PT Semen Padang, Pri Gustari Akbar, jajaran komisaris perusahaan, serta Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir.

Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, di antaranya Jony Wongso, Alfa Noranda, Hari Setyawan, M. Aidil Usman, S Metron Masdison, serta Donny Eros.

Dalam pemaparannya, Fadli Zon menyebut area seluas sekitar lima hektare itu memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi ruang kreatif yang menampung berbagai aktivitas seni dan budaya. Menurutnya, bangunan pabrik semen tertua di Asia Tenggara tersebut dapat dimanfaatkan untuk pameran seni rupa, instalasi, pertunjukan tari, teater, kegiatan sastra, hingga program kebudayaan lainnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa revitalisasi kawasan harus menjadi langkah awal sebelum pemanfaatan lebih luas dilakukan. Pembenahan infrastruktur dan kondisi fisik kawasan dinilai penting agar situs cagar budaya tersebut dapat digunakan secara aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Menurut Fadli, pemerintah saat ini juga tengah menjalankan program revitalisasi berbagai cagar budaya di Indonesia. Karena itu, peluang untuk memasukkan sebagian area Pabrik Indarung I ke dalam program tersebut terbuka lebar.

Pabrik yang mulai beroperasi sejak tahun 1910 itu memiliki nilai sejarah penting sebagai tonggak perkembangan industri semen nasional. Namun, meskipun telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, pemanfaatannya dinilai masih belum optimal.

Ia mengungkapkan telah beberapa kali mengunjungi langsung kawasan tersebut dan melihat potensi besar yang masih bisa dikembangkan. Oleh sebab itu, simposium digelar untuk merumuskan arah pengelolaan dan pemanfaatan kawasan, khususnya di bidang kebudayaan.

Terkait rencana Indarung Biennale, Fadli menyebut telah berkomunikasi dengan pimpinan Galeri Nasional Indonesia. Melalui ajang tersebut, pemerintah berharap dapat menghadirkan seniman dan perupa ternama dari berbagai negara untuk memamerkan karya mereka di Padang.

Konsep ini terinspirasi dari Venice Biennale di Italia yang memanfaatkan kawasan bekas galangan kapal dan gudang persenjataan bernama Arsenale sebagai lokasi pameran seni dunia. Karakter industrial yang dimiliki Pabrik Indarung I diyakini dapat menjadi keunggulan tersendiri dalam pengembangan konsep serupa.

Dukungan terhadap gagasan tersebut juga datang dari PT Semen Padang. Pri Gustari Akbar menegaskan bahwa Pabrik Indarung I bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol lahirnya industri semen modern di Indonesia.

Menurutnya, kawasan itu menyimpan berbagai nilai penting, mulai dari sejarah teknologi, perjalanan sosial masyarakat, hingga identitas yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Ia juga menegaskan komitmen perusahaan untuk terus bekerja sama dengan pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam mengembangkan kawasan tersebut. Harapannya, Pabrik Indarung I dapat menjadi destinasi wisata edukasi, pusat pembelajaran sejarah industri, sekaligus kebanggaan masyarakat Sumatera Barat dan Indonesia.

Pri Gustari berharap kawasan bersejarah itu dapat menjadi contoh keberhasilan pengelolaan warisan industri secara modern tanpa menghilangkan nilai sejarah, karakter asli, dan keautentikannya. Ia juga berharap simposium yang digelar mampu menghasilkan rekomendasi terbaik bagi masa depan Pabrik Indarung I.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update