Solok, Rakyatterkini.com – Pemerintah Kota Solok melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat langkah mitigasi dalam menghadapi potensi bencana yang ada di wilayah tersebut.
Sedikitnya terdapat 10 jenis ancaman bencana yang telah dipetakan dan menjadi perhatian utama. Itu dikatakan Kepala Pelaksana BPBD Kota Solok, Edrizal, Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan berbagai potensi bencana tersebut meliputi banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gempa bumi, likuifaksi atau pergerakan tanah seperti yang terjadi di kawasan Payo, kebakaran hutan dan lahan, letusan gunung api, tanah longsor, pandemi, hingga kekeringan.
Menurutnya, kajian risiko bencana (KRB) di Kota Solok akan kembali diperbarui tahun ini agar sesuai dengan kondisi terbaru di lapangan dan perkembangan potensi ancaman.
Dari seluruh jenis bencana tersebut, banjir tercatat sebagai kejadian yang paling sering terjadi dan paling berdampak di Kota Solok. Ia mencontohkan peristiwa banjir pada akhir tahun 2025 yang tergolong paling parah, di mana sembilan kelurahan terdampak cukup signifikan.
“Dari 13 kelurahan yang ada, hanya empat yang tidak terdampak, yaitu Laing, Simpang Rumbio, Tanjung Paku, dan PPA,” jelasnya.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, BPBD Kota Solok juga menerima dukungan anggaran dari Dana Transfer ke Daerah (TKD) sebesar sekitar Rp1,5 miliar. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan fasilitas gudang dan garasi, pengadaan sejumlah peralatan kebencanaan, serta penyusunan dokumen KRB.
Sementara itu, terkait ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan mulai muncul sejak Juni, Edrizal menyebut kondisi Kota Solok masih relatif aman dan belum menunjukkan dampak serius.
“Memang ada pengaruh El Nino, tetapi kondisi Kota Solok saat ini masih aman. Mudah-mudahan tidak berdampak besar,” ujarnya.
Untuk potensi kebakaran hutan dan lahan, beberapa wilayah seperti Tanah Garam dan Payo Nan Balimo tetap menjadi titik perhatian. Meski kasus karhutla saat ini menurun, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan di lapangan.
Dalam penanganan bencana, BPBD Kota Solok mengandalkan Tim Reaksi Cepat (TRC) yang siaga selama 24 jam penuh. Jika terjadi bencana besar, penanganan juga dilakukan secara terpadu bersama berbagai instansi terkait.
Selain kesiapan petugas, peran serta masyarakat juga sangat penting dalam upaya pengurangan risiko bencana.
“Kesadaran masyarakat menjadi kunci. Kami terus melakukan sosialisasi, termasuk melalui media sosial,” katanya.
Ia juga menambahkan warga di daerah rawan banjir umumnya sudah cukup memahami langkah-langkah antisipasi sehingga lebih sigap saat tanda-tanda bencana muncul.
Dari sisi sarana dan prasarana, BPBD Kota Solok masih menghadapi keterbatasan, terutama pada peralatan evakuasi seperti perahu. Saat ini, jumlah personel dinilai mencukupi, yakni 35 orang dengan pembagian satu regu berisi 12 personel.
“Personel sudah cukup, tetapi untuk peralatan seperti perahu masih perlu ditambah,” ungkapnya.
Selain itu, pihaknya juga telah mengajukan tambahan peralatan melalui dana TKD, termasuk perlengkapan penunjang bagi petugas di lapangan.
Untuk sistem peringatan dini atau early warning system (EWS), Kota Solok masih menggunakan metode sederhana.
Peringatan biasanya disampaikan melalui mobil pengeras suara, disertai pemantauan debit air dua kali sehari serta penggunaan penanda warna di titik-titik tertentu yang bisa dipantau langsung oleh masyarakat. (sa)


