Solok, Rakyatterkini.com – Di tengah hamparan sawah di Nagari Selayo, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, yang sebelumnya rusak akibat terjangan banjir bandang, tampak sejumlah warga laki-laki mulai kembali beraktivitas. Mereka bekerja di lahan yang kini dipenuhi material lumpur dan pasir sisa bencana.
Para pria dewasa itu terlihat tanpa mengenakan baju saat bekerja di bawah terik matahari. Jika dulu mereka ke sawah membawa cangkul untuk bercocok tanam, kini peralatan yang dibawa berubah menjadi sekop dan alat pengangkut material.
Salah satu warga, Oktavianus (54), tampak sibuk mengayunkan sekop di atas timbunan pasir setinggi lutut. Tubuhnya yang gelap akibat panas matahari tampak basah oleh keringat.
Ia tidak bekerja sendiri, melainkan bersama beberapa warga lain yang juga melakukan aktivitas serupa. Ada yang menggali material, ada yang mengangkut menggunakan gerobak, dan sebagian lainnya memindahkan muatan ke truk yang sudah menunggu di tepi jalan.
“Bukan beralih pekerjaan, tapi kondisi yang memaksa. Yang penting tetap halal. Di sawah ini banyak pasir dan batu kecil tertimbun, jadi kami manfaatkan dulu,” ujarnya, Jumat (19/04/2026).
Bagi Oktavianus dan warga Jorong Munggu Tanah, material akibat galodo yang menutup lahan pertanian menjadi persoalan sekaligus peluang. Di satu sisi, material tersebut harus dibersihkan agar sawah bisa kembali digunakan. Namun di sisi lain, biaya pembersihan cukup besar karena membutuhkan alat berat, bahan bakar, hingga tenaga kerja tambahan.
Karena kondisi itu, sebagian material yang terkumpul kemudian dijual kepada sopir truk yang mencari muatan. Hasil penjualan tersebut dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, sekaligus membantu proses pemulihan lahan mereka sendiri.
“Dulu sawah ini menghasilkan beras untuk kami. Sekarang justru materialnya kami jual dulu supaya nanti bisa ditanami lagi,” tutur Oktavianus dengan senyum yang tampak berat.
Dalam satu hari kerja, kelompok ini mampu mengumpulkan sekitar 4 hingga 6 meter kubik material yang siap dijual. Dengan harga sekitar Rp90.000 per meter kubik di tingkat pengepul, setiap orang bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari.
“Cukup untuk mengganti biaya yang sudah keluar untuk memperbaiki sawah,” tambahnya.
Sejak awal Ramadan, Oktavianus bergabung dengan kelompok warga lain yang fokus membersihkan sawah terdampak bencana. Mereka bekerja di bawah panas terik, disertai debu yang kerap beterbangan.
“Kemampuan kami hanya ini. Daripada tidak bekerja, sambil membersihkan lahan sendiri kami masih bisa mendapat penghasilan untuk makan sehari-hari,” katanya singkat.
Sementara itu, bagi Rido (27), seorang sopir truk pengangkut pasir, aktivitas warga ini justru membantu pekerjaannya. Sebelum bencana, ia biasa mengambil pasir dari lokasi tambang yang cukup jauh dan sering mengalami antrean panjang, bahkan hingga berhari-hari hanya untuk mendapatkan satu muatan penuh.(da*)


