Jakarta, Rakyatterkini.com – Pada 12 Mei 1998, sekitar 28 tahun yang lalu, terjadi peristiwa tragis di Universitas Trisakti yang hingga kini dikenang sebagai salah satu luka sejarah Indonesia. Insiden ini kemudian diperingati sebagai Hari Tragedi Trisakti.
Peristiwa tersebut bermula dari aksi damai mahasiswa Universitas Trisakti yang menuntut reformasi di tengah krisis besar yang melanda Indonesia.
Aksi itu berujung pada penembakan terhadap para mahasiswa, yang kemudian menjadi salah satu pemicu gelombang kerusuhan nasional dan mempercepat runtuhnya pemerintahan Orde Baru.
Tragedi ini tidak terlepas dari krisis multidimensi tahun 1998. Saat itu, Indonesia tengah terpuruk akibat krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi melemah, harga-harga melonjak, inflasi tinggi, serta meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme di pemerintahan Presiden Soeharto.
Aksi mahasiswa Trisakti awalnya direncanakan sebagai long march damai dari kampus menuju Gedung Nusantara (MPR/DPR) pada siang hari. Namun, perjalanan mereka dihentikan oleh aparat keamanan gabungan di sekitar kawasan Jakarta Barat, sehingga terjadi ketegangan dan proses negosiasi di lokasi.
Menjelang sore, mahasiswa mulai kembali ke area kampus. Namun sekitar pukul 17.00 WIB, situasi kembali memanas ketika aparat melepaskan gas air mata dan tembakan peluru tajam ke arah mahasiswa yang berada di lingkungan kampus.
Akibat kejadian tersebut, empat mahasiswa meninggal dunia akibat luka tembak di bagian tubuh vital. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Heri Hertanto dari Fakultas Teknologi Industri, Hafidin Royan dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, serta Hendriawan Sie dari Fakultas Ekonomi. Selain itu, puluhan mahasiswa lainnya juga mengalami luka-luka.
Kematian empat mahasiswa ini kemudian memicu kemarahan luas di masyarakat dan menjadi salah satu pemicu utama terjadinya kerusuhan besar pada Mei 1998 di berbagai daerah, terutama Jakarta, yang ditandai dengan penjarahan dan pembakaran.
Gelombang protes tersebut turut mengguncang legitimasi pemerintah hingga akhirnya Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Peristiwa ini sekaligus menandai lahirnya era Reformasi dan dimulainya proses demokratisasi di Indonesia.
Meski sudah lebih dari dua dekade berlalu, Tragedi Trisakti masih terus menjadi sorotan publik karena belum tuntasnya proses hukum terhadap para pelaku maupun pihak yang bertanggung jawab, sehingga dikategorikan sebagai salah satu kasus pelanggaran hak asasi manusia yang masih menyisakan tanda tanya.
Selain mengenang para mahasiswa yang gugur sebagai simbol perjuangan reformasi, peringatan ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga semangat demokrasi dan kebebasan di Indonesia.(da*)


