Padang, Rakyatterkini.com – Tokoh agama Kristen di Sumatera Barat (Sumbar), Pendeta Bilman Simanjuntak, menanggapi pernyataan pegiat media sosial Abu Janda yang menyebut Sumbar sebagai daerah “barbar”. Ia menilai pernyataan tersebut terlalu berlebihan dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Menurut Bilman, kehidupan antarumat beragama di Sumbar selama ini berjalan harmonis. Masyarakat dari berbagai latar belakang hidup berdampingan dengan damai. Ia menegaskan, tidak adil jika seluruh warga Sumbar diberi stigma negatif hanya karena adanya persoalan tertentu.
Ia menjelaskan bahwa istilah “barbar” identik dengan masyarakat yang tidak memiliki aturan, adat, maupun norma. Sementara itu, masyarakat Sumbar justru dikenal masih menjunjung tinggi nilai adat dan norma sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Secara pribadi, Bilman mengaku tidak melihat adanya sikap intoleransi yang meluas di tengah masyarakat Sumbar. Namun, ia tidak menampik bahwa masih ada sejumlah isu yang kerap menjadi perdebatan, terutama terkait pendirian rumah ibadah di beberapa wilayah.
Ia menyebutkan, masih terdapat beberapa daerah di Sumbar yang belum memiliki gereja. Kondisi ini kerap memunculkan diskusi terkait kebebasan dalam mendirikan rumah ibadah.
Meski demikian, Bilman menilai persoalan tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk melabeli masyarakat Sumbar sebagai intoleran, apalagi menyebutnya “barbar”. Ia mengajak semua pihak untuk lebih bijak dalam menyampaikan pendapat di ruang publik agar tidak memicu perpecahan.
Bilman juga berharap polemik ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat sikap toleransi antarumat beragama. Menurutnya, toleransi bukan hanya soal kebebasan beribadah, tetapi juga mencakup sikap saling menghormati terhadap budaya, adat, dan perasaan masyarakat setempat.
Ia menambahkan, umat Kristen di Sumbar selama ini dapat hidup dengan baik. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga keharmonisan dan saling menghargai demi terciptanya suasana yang damai.(da*)


