Jakarta, Rakyatterkini.com — Pemerintah terus menggenjot upaya pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ribuan hektare lahan yang sebelumnya rusak kini mulai kembali digarap oleh petani. Khusus di Sumatera Barat, capaian rehabilitasi bahkan hampir tuntas dengan progres mencapai sekitar 98 persen.
Juru Bicara Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Amran, menyampaikan bahwa perbaikan lahan sawah menjadi fokus utama pemerintah karena berhubungan langsung dengan kondisi ekonomi masyarakat, terutama para petani.
Ia menjelaskan, percepatan pemulihan sawah dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus membantu masyarakat kembali bangkit setelah terdampak bencana. Pemerintah juga telah menyalurkan berbagai bentuk bantuan serta dukungan anggaran kepada daerah terdampak di tiga provinsi tersebut.
Lebih lanjut, Amran menuturkan bahwa rehabilitasi tidak hanya bertujuan mengembalikan fungsi lahan agar produktif kembali, tetapi juga mempercepat pemulihan kehidupan sosial ekonomi warga, khususnya keluarga yang bergantung pada sektor pertanian.
Data Kementerian Pertanian per 7 Mei 2026 mencatat, total target pemulihan lahan sawah di tiga provinsi tersebut mencapai 42.702 hektare dengan dukungan anggaran sebesar Rp337,97 miliar. Dari jumlah itu, sekitar 16.670 hektare sudah memasuki tahap konstruksi perbaikan.
Selain itu, sebanyak 4.098 hektare lahan telah rampung direhabilitasi, 2.212 hektare sudah kembali diolah oleh petani, dan 2.110 hektare lainnya telah ditanami kembali.
Perkembangan paling pesat terlihat di Sumatera Barat. Dari target pemulihan seluas 3.902 hektare, sekitar 3.809 hektare telah masuk tahap konstruksi. Dari jumlah tersebut, 2.583 hektare sudah selesai diperbaiki dan lebih dari 2.100 hektare kembali ditanami.
Sementara itu, di Sumatera Utara, proses rehabilitasi pada lahan seluas 5.201 hektare juga telah berjalan dan masuk tahap konstruksi. Adapun Aceh menjadi wilayah dengan dampak kerusakan terluas, yakni mencapai 31.464 hektare.
Di sejumlah daerah di Aceh seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya, proses pemulihan terus dipercepat melalui pembangunan kembali saluran irigasi, penataan ulang petak sawah, serta pengolahan lahan.
Pemerintah berharap langkah percepatan ini dapat segera menghidupkan kembali aktivitas pertanian masyarakat, sehingga perekonomian warga yang terdampak bencana dapat pulih secara bertahap. (da*)


