Notification

×

Iklan

Enam Bulan Pascagalodo, Salareh Aia Masih Porak-Poranda

Rabu, 27 Mei 2026 | 07:17 WIB Last Updated 2026-05-27T00:17:00Z

Nagari Salareh Aia, Palembayan, Kabupaten Agam enam bulan pascabencana galodo.

Agam, Rakyatterkini.com – Enam bulan setelah galodo melanda Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, bekas bencana masih terlihat jelas tanpa banyak perubahan sejak peristiwa akhir November 2025 itu. 

Banjir bandang yang menghantam tiga nagari tersebut meninggalkan kerusakan yang belum sepenuhnya tertangani hingga kini.

Di sejumlah titik, sisa-sisa bencana masih berserakan. Batu-batu berukuran besar memenuhi area persawahan warga, sementara gelondongan kayu menumpuk di sepanjang aliran sungai. Bangunan rumah yang terdampak pun masih banyak yang berdiri dalam kondisi rusak, hanya menyisakan kerangka tanpa perbaikan berarti.

Kondisi jalan menuju permukiman juga memprihatinkan. Beberapa ruas mengalami retakan dan longsor hingga sebagian badan jalan tergerus ke arah jurang. Aspal tampak menggantung di tepi tebing tanpa penopang yang memadai.

Pengendara yang melintas harus ekstra hati-hati karena jalur menyempit dan rawan longsor, terutama saat hujan turun. “Kalau malam orang takut lewat sini. Sedikit saja ke pinggir bisa jatuh,” ujar Syafrianto, warga Jorong Subarang Aia, Sabtu (23/5/2026).

Di sisi jalan yang amblas, jurang dengan kedalaman belasan meter terbuka jelas. Warga setempat hanya memasang tanda darurat sederhana berupa kayu dan batu untuk memperingatkan bahaya.

Nagari Salareh Aia menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah dalam bencana tersebut. Pada November 2025, aliran air bercampur lumpur, batu, dan kayu menerjang permukiman warga di beberapa titik Salareh Aia Timur. Peristiwa itu menelan 163 korban jiwa, sementara 38 orang lainnya dinyatakan hilang dan belum ditemukan hingga saat ini.

Syafrianto mengungkapkan, hingga kini sebagian warga masih dihantui rasa takut setiap kali hujan deras turun pada malam hari. Tidak sedikit keluarga yang memilih sementara waktu mengungsi ke rumah kerabat ketika curah hujan tinggi berlangsung lama, karena khawatir terjadi longsor atau banjir susulan.

Kerusakan terparah terlihat pada sektor pertanian. Lahan sawah yang sebelumnya hijau dan produktif kini berubah menjadi hamparan batu, pasir, dan lumpur yang telah mengering.

Di sekitar aliran Batang Sinuruik, batu-batu besar menutupi hampir seluruh permukaan sawah. Jejak aliran galodo masih tampak jelas membelah area pertanian warga.

Hengki, warga setempat, mengatakan banyak petani belum dapat kembali mengolah lahan mereka karena material batu yang terbawa arus terlalu besar dan sulit dibersihkan secara manual.

“Kalau hanya lumpur mungkin masih bisa dibersihkan. Tapi sekarang sawah sudah penuh batu,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski alat berat sempat diturunkan ke beberapa lokasi pascabencana, masih banyak area persawahan yang belum tersentuh pembersihan akibat luasnya dampak kerusakan.

Sebagian warga berupaya membersihkan lahan secara mandiri dengan peralatan sederhana seperti cangkul dan linggis. Namun prosesnya berjalan lambat karena ukuran batu yang terbawa arus terlalu besar.

“Bajak sudah tidak bisa masuk lagi. Sawah benar-benar berubah,” kata Hengki.

Sebelum bencana terjadi, mayoritas warga Salareh Aia Timur menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Namun rusaknya lahan membuat sumber penghidupan itu ikut hilang.

Kini, sebagian warga terpaksa beralih pekerjaan, mulai dari menjadi buruh bangunan hingga merantau ke daerah lain untuk mencari penghasilan sementara guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update