Jakarta, Rakyatterkini.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mengajak kalangan perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk menjadikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai “laboratorium hidup” yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan riset, kajian ilmiah, hingga peningkatan kualitas pendidikan.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S. Deyang, menyampaikan bahwa program MBG memiliki potensi besar sebagai sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.
Menurutnya, seluruh fakultas di kampus dapat ikut berpartisipasi sesuai bidang keahliannya masing-masing. Ia menegaskan bahwa MBG bisa menjadi ruang praktik nyata yang bermanfaat bagi dunia akademik.
Nanik juga menjelaskan bahwa program ini hadir sebagai respons atas masih terbatasnya akses sebagian masyarakat terhadap makanan bergizi.
Ia menilai, kondisi tersebut menjadi alasan utama pentingnya keberlanjutan Program MBG agar dapat membantu pemenuhan gizi masyarakat secara lebih merata.
Melalui program ini, BGN turut membuka kesempatan bagi pihak kampus untuk memberikan masukan demi meningkatkan efektivitas pelaksanaan di lapangan.
Salah satu bentuk keterlibatan yang didorong adalah partisipasi mahasiswa dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), terutama dari jurusan kesehatan dan gizi.
Selain perguruan tinggi, BGN juga mendorong kerja sama lintas sektor, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Dukungan ini difokuskan pada pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Dalam kesempatan tersebut, Nanik mencontohkan Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai salah satu kampus yang telah lebih dulu mengembangkan SPPG. Fasilitas itu telah diresmikan pada 28 April 2026 oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto bersama Kepala BGN Dadan Hindayana.
Ia berharap langkah Unhas dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi lainnya agar manfaat Program MBG bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Nanik juga mengapresiasi kesiapan sarana dan prasarana di Unhas, termasuk laboratorium yang dinilai dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemeriksaan jika terjadi kasus terkait keamanan pangan.
Sementara itu, Rektor Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa, menegaskan komitmen kampusnya dalam mendukung program tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas gizi nasional sekaligus memperkuat perekonomian daerah.
Ia menyebut MBG bukan sekadar program dari satu bidang studi, melainkan inisiatif yang melibatkan seluruh fakultas di lingkungan kampus.
Jamaluddin juga menilai Program MBG memiliki dampak yang luas sehingga perguruan tinggi seharusnya turut aktif berkontribusi, bukan hanya menjadi pengamat.(da*)


