Notification

×

Iklan

Arus Peti Kemas Naik 7 Persen, Ekonomi Indonesia Menguat

Minggu, 31 Mei 2026 | 14:45 WIB Last Updated 2026-05-31T07:45:00Z

Aktivitas logistik dan perdagangan nasional

Jakarta, Rakyatterkini.com — Sektor logistik dan perdagangan nasional pada awal 2026 menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Hingga April 2026, arus peti kemas yang ditangani PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo tercatat mencapai 6,42 juta Twenty-foot Equivalent Units (TEUs). Angka ini naik sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di 5,99 juta TEUs.

Peningkatan tersebut menjadi sinyal menguatnya aktivitas ekonomi Indonesia, terutama pada sektor perdagangan internasional, industri pengolahan, konsumsi dalam negeri, serta distribusi barang antarwilayah.

Direktur Utama PT Pelindo, Achmad Muchtasyar, menyampaikan bahwa pertumbuhan paling besar berasal dari segmen internasional yang meningkat sekitar 11 persen. Aktivitas ekspor naik sekitar 10 persen, sedangkan impor tumbuh sekitar 12 persen.

“Pertumbuhan ini terutama didorong oleh segmen internasional yang naik kurang lebih 11 persen, dengan ekspor meningkat 10 persen dan impor 12 persen,” ujarnya dalam keterangan bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan dan Pelindo, Kamis (29/5/2026).

Sementara itu, arus peti kemas domestik juga mengalami kenaikan sekitar 4 persen, dengan kegiatan bongkar naik 5 persen dan muat bertambah sekitar 4 persen.

Menurut Achmad, kondisi ini menunjukkan bahwa rantai pasok nasional tetap berjalan stabil meskipun terdapat tekanan ekonomi global, seperti perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara serta dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ia juga menambahkan bahwa struktur perdagangan Indonesia yang masih didominasi kawasan intra-Asia turut menjadi faktor penopang. China dan negara-negara ASEAN tercatat menyumbang sekitar 46,2 persen ekspor Indonesia dan 56,5 persen impor nasional.

Hal ini memberikan ketahanan tersendiri karena aktivitas perdagangan Indonesia masih bertumpu pada mitra dagang yang relatif stabil dan terintegrasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), beberapa komoditas ekspor berbasis peti kemas juga mengalami pertumbuhan positif. Di antaranya lemak dan minyak hewan/nabati naik 7,95 persen, mesin dan peralatan mekanis tumbuh 9,26 persen, mesin serta perlengkapan listrik meningkat 4,9 persen, serta produk kimia yang melonjak 12,27 persen.

Kenaikan ini mencerminkan bahwa aktivitas industri manufaktur dan hilirisasi di dalam negeri masih terus berjalan aktif, khususnya pada sektor bernilai tambah tinggi.

Dari sisi impor, peningkatan terbesar terjadi pada mesin dan peralatan mekanis yang naik 22,1 persen, mesin dan perlengkapan listrik 17,91 persen, instrumen optik 20,8 persen, serta produk kimia sebesar 36,31 persen.

Lonjakan impor barang modal dan bahan penunjang industri tersebut menandakan bahwa kebutuhan investasi serta ekspansi kapasitas produksi di dalam negeri masih cukup kuat.

Aktivitas logistik juga mengalami peningkatan di sejumlah pelabuhan utama seperti Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Emas di Semarang, dan Tanjung Perak di Surabaya. Ketiga pelabuhan ini menjadi pusat utama kegiatan ekspor-impor sekaligus jalur distribusi barang antar pulau di Indonesia.

Di sektor domestik, peningkatan distribusi ke wilayah Indonesia timur menjadi indikasi semakin kuatnya pemerataan ekonomi nasional.

Pelabuhan Tanjung Priok mencatat kenaikan arus domestik sekitar 8 persen yang didorong meningkatnya pengiriman ke kawasan timur Indonesia. Sementara itu, Tanjung Perak tumbuh sekitar 2 persen berkat penguatan layanan ke Makassar, Kendari, hingga Berau. Adapun Pelabuhan Makassar mencatat pertumbuhan sekitar 7 persen yang didukung distribusi komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Muhammad Masyhud, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat kapasitas serta layanan pelabuhan untuk mengantisipasi pertumbuhan arus logistik nasional dan internasional.

“Salah satu upaya yang dilakukan adalah menerbitkan rekomendasi teknis penetapan terminal peti kemas dari fasilitas yang sebelumnya berstatus multipurpose,” jelasnya.

Ia menambahkan, hingga April 2026 pemerintah telah menetapkan 12 lokasi terminal peti kemas baru, termasuk di Pelabuhan Banten dan Tanjung Emas Semarang.

Dari sisi infrastruktur, pemerintah bersama BUMN kepelabuhanan juga terus mempercepat modernisasi fasilitas pelabuhan. Langkah tersebut meliputi pengembangan terminal peti kemas, pendalaman alur pelayaran, peningkatan kapasitas dermaga dan area penumpukan, modernisasi alat bongkar muat, hingga digitalisasi layanan pelabuhan.

Pada periode 2025–2026, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pelabuhan dilakukan di 74 titik di seluruh Indonesia sebagai bagian dari penguatan sistem logistik nasional.

Upaya ini sekaligus mendukung program hilirisasi industri, peningkatan perdagangan intra-Asia, serta pemerataan pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.

Dengan peningkatan kapasitas dan kualitas layanan tersebut, pelabuhan di Indonesia diharapkan mampu mengimbangi pertumbuhan arus peti kemas, baik domestik maupun internasional, yang diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Penguatan konektivitas logistik juga dipandang sebagai faktor penting dalam menjaga daya saing ekonomi nasional, menarik investasi, serta memperlancar distribusi barang di tengah meningkatnya kebutuhan industri dan konsumsi masyarakat.

Sejalan dengan arah pembangunan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sektor logistik dan kepelabuhanan diarahkan untuk mempercepat transformasi ekonomi berbasis hilirisasi, industrialisasi, serta pemerataan pembangunan antarwilayah di Indonesia.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update