Jakarta, Rakyatterkini.com – Kasus gajah bernama Chanchal yang viral karena diduga mati setelah dicat warna pink memicu keprihatinan publik. Aksi tersebut diketahui dilakukan semata-mata untuk pembuatan konten media sosial, sehingga menuai kecaman dari aktivis dan pecinta hewan.
Para pecinta hewan menekankan bahwa gajah tidak boleh ditunggangi maupun diwarnai. Kejadian ini bermula dari pemotretan yang dilakukan fotografer asal Rusia, Julia Buruleva, yang mengecat gajah dengan warna pink terang dan menempatkan seorang wanita di atas tubuh hewan tersebut.
Tidak hanya gajah, model yang ikut difoto juga diberi cat berwarna pink. Lokasi pemotretan berlangsung di Jaipur, India, dan cepat menjadi viral di media sosial.
Visual yang mencolok itu memicu kritik luas. Banyak pihak menilai tindakan tersebut merupakan bentuk eksploitasi hewan demi popularitas konten. Kabar kematian Chanchal yang muncul kemudian menambah kemarahan publik, karena banyak yang menduga kematian gajah itu berkaitan langsung dengan sesi pemotretan.
Fakta Kematian Chanchal
Namun, fakta sebenarnya berbeda dari yang beredar. Pemotretan dilakukan pada November 2025, sedangkan Chanchal dilaporkan meninggal beberapa bulan kemudian, pada Februari 2026. Menurut pemilik gajah, Chanchal saat itu berusia antara 65 hingga 70 tahun, usia yang tergolong tua untuk seekor gajah. Dengan demikian, kematiannya diduga besar akibat faktor usia, bukan langsung karena pemotretan.
Pihak terkait juga menegaskan bahwa cat yang digunakan adalah 'gulal', bubuk warna alami yang umum dipakai dalam perayaan Holi di India, dan hanya diaplikasikan sebentar sebelum dibersihkan.
Meski demikian, kontroversi tetap ada. Aktivis menekankan bahwa mengecat gajah tetap berisiko dan tidak etis, mengingat kulit gajah sangat sensitif terhadap zat kimia maupun pewarna.(da*)


