Notification

×

Iklan

Stok Rudal AS Menipis Usai Konflik Iran

Minggu, 26 April 2026 | 00:42 WIB Last Updated 2026-04-25T20:58:21Z

Persediaan rudal militer AS terkuras secara signifikan 

Jakarta, Rakyatterkini.com — Stok rudal milik militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan menyusut drastis akibat konflik dengan Iran. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal peringatan bagi Washington jika harus menghadapi konflik lain di masa mendatang.

Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS), selama sekitar tujuh pekan pertempuran, AS telah menghabiskan sekitar 45 persen rudal Precision Strike Missile (PSM). Selain itu, penggunaan sistem pertahanan juga cukup besar, yakni sekitar setengah dari persediaan THAAD serta hampir 50 persen rudal Patriot.

Media CNN menyebutkan bahwa data tersebut sejalan dengan perkiraan yang dimiliki Departemen Pertahanan AS atau Pentagon.

Tak hanya itu, militer AS juga telah memakai sekitar 30 persen stok rudal jelajah Tomahawk, lebih dari 20 persen Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM), serta masing-masing sekitar 20 persen rudal SM-3 dan SM-6.

Pemerintah AS sebenarnya sudah mengambil langkah dengan meneken kontrak peningkatan produksi rudal pada awal 2026. Namun, proses untuk memulihkan kembali persediaan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu antara tiga hingga lima tahun, meskipun produksi dipacu lebih cepat.

Untuk jangka pendek, AS dinilai masih memiliki cadangan amunisi yang cukup jika harus melanjutkan operasi militer terhadap Iran, terutama apabila gencatan senjata tidak bertahan.

Meski demikian, laporan tersebut menyoroti bahwa stok senjata yang ada saat ini belum memadai jika harus menghadapi konflik dengan negara yang memiliki kekuatan setara, seperti China.

Mark Cancian, mantan anggota Korps Marinir AS sekaligus salah satu penyusun laporan CSIS, menyatakan bahwa tingginya penggunaan amunisi telah membuka potensi kerentanan, khususnya di kawasan Pasifik Barat.

Ia menambahkan, pengisian ulang persediaan bisa memakan waktu antara satu hingga empat tahun, dan bahkan lebih lama lagi untuk mencapai jumlah ideal.

Sementara itu, Juru Bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa militer AS tetap siap menjalankan tugas sesuai arahan Presiden. Ia menyebut, sejak Donald Trump kembali menjabat, berbagai operasi militer telah berjalan sukses, sembari memastikan kesiapan persenjataan untuk melindungi kepentingan dan warga negara AS.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update