Notification

×

Iklan

Pendaki Temukan Jejak Ekosistem 280 Juta Tahun di Alpen

Sabtu, 25 April 2026 | 02:45 WIB Last Updated 2026-04-25T07:17:48Z

Temukan Jejak Ekosistem 280 Juta Tahun

Jakarta, Rakyatterkini.com – Sekitar dua tahun lalu atau pada 2023, seorang pendaki secara tidak sengaja menemukan bagian ekosistem kuno yang diperkirakan berusia 280 juta tahun. 

Temuan tersebut sangat lengkap, mulai dari jejak kaki hewan purba, fosil tumbuhan, hingga bekas tetesan hujan yang berasal dari zaman Permian.

Pendaki perempuan bernama Claudia Steffensen itu menemukan “jejak dunia purba” tersebut saat mendaki di kawasan Taman Pegunungan Valtellina Orobie, Lombardy, Italia. Ia mengaku awalnya merasa ada sesuatu yang berbeda ketika menginjak sebuah batu dengan permukaan yang tidak biasa.

Ia kemudian memperhatikan pola melingkar dengan garis-garis bergelombang di batu tersebut. Rasa penasaran membuatnya melihat lebih dekat hingga akhirnya menyadari bahwa pola itu merupakan jejak kaki.

Temuan itu segera diteliti oleh para ilmuwan. Hasil analisis menunjukkan bahwa jejak tersebut berasal dari reptil prasejarah. Penelitian pun diperluas ke wilayah dataran tinggi Alpen untuk mencari kemungkinan bukti lain yang berkaitan.

Setelah beberapa kali melakukan penelitian lapangan, para ahli paleontologi akhirnya menemukan indikasi adanya satu ekosistem utuh yang berasal dari periode Permian, yakni sekitar 299 juta hingga 252 juta tahun lalu. 

Masa ini dikenal sebagai periode dengan perubahan iklim ekstrem yang berujung pada peristiwa kepunahan massal terbesar dalam sejarah Bumi, yang disebut “Great Dying”, di mana sekitar 90 persen spesies musnah.

Jejak kehidupan purba tersebut tersebar hingga ketinggian sekitar 3.000 meter di kawasan pegunungan dan juga di dasar lembah. Ekosistem yang terbentuk dari batu pasir halus ini memiliki tingkat pelestarian yang sangat baik, diduga karena dulunya sering terendam air.

Seorang paleontolog dari Universitas Pavia, Ausonio Ronchi, menjelaskan bahwa proses pengawetan jejak tersebut terjadi ketika batu pasir dan serpih masih berupa lumpur dan pasir di tepi sungai maupun danau. Kondisi tersebut terjadi berulang mengikuti siklus musim.

Menurutnya, panas matahari saat musim panas membuat permukaan tersebut mengeras. Ketika air kembali datang, jejak yang sudah terbentuk tidak hilang, melainkan tertutup oleh lapisan tanah liat baru yang berfungsi sebagai pelindung.

Material pasir dan lumpur ini mampu menjaga detail jejak dengan sangat baik, termasuk bekas cakaran hingga pola bagian bawah tubuh hewan. Para peneliti memperkirakan jejak tersebut berasal dari lima spesies hewan berukuran besar, dengan panjang sekitar 2 hingga 3 meter, mirip dengan ukuran komodo saat ini.

Seorang paleontolog vertebrata dari Museum Sejarah Alam Milan, Cristiano Dal Sasso, menyebut bahwa pada masa itu dinosaurus belum muncul. Meski begitu, hewan yang meninggalkan jejak terbesar di lokasi tersebut dipastikan memiliki ukuran tubuh yang cukup besar.

Penemuan penting ini juga dipengaruhi oleh perubahan iklim modern yang menyebabkan mencairnya lapisan es dan salju di Pegunungan Alpen. Para peneliti menilai fosil-fosil tersebut menjadi bukti nyata yang menggambarkan kehidupan di masa geologis yang sangat lampau.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update