Notification

×

Iklan

MBG Dongkrak Ekonomi Petani, Perputaran Dana Capai Rp600 Miliar per Hari

Sabtu, 18 April 2026 | 14:45 WIB Last Updated 2026-04-18T07:45:00Z

Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jakarta, Rakyatterkini.com – Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak ekonomi yang besar bagi petani, peternak, hingga pembudidaya ikan di berbagai daerah.

Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, mengungkapkan bahwa perputaran uang dari program tersebut mencapai sekitar Rp1 triliun per hari, dengan sekitar Rp600 miliar di antaranya mengalir ke sektor pangan.

“Dari total aktivitas MBG setiap hari, sekitar Rp600 miliar masuk ke rantai pangan, termasuk petani, peternak, dan pembudidaya ikan,” ujarnya dalam diskusi bertema satu tahun perjalanan MBG di Jakarta, Kamis (16/4).

Menurutnya, program ini turut mendorong penguatan ekonomi desa karena permintaan berbagai komoditas pertanian terus meningkat. Ia mencontohkan kebutuhan beras untuk MBG pada 2025 yang mencapai sekitar 360 ribu ton dengan nilai sekitar Rp5,16 triliun.

Seiring bertambahnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kebutuhan beras diproyeksikan naik menjadi 1,99 juta ton pada tahun ini dengan nilai lebih dari Rp30 triliun, sekaligus membuka banyak lapangan kerja.

“Ini angka yang sangat besar, dan tentu saja menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan,” kata Suwandi.

Tidak hanya beras, kebutuhan pangan lain juga meningkat tajam. Untuk telur ayam, kebutuhan pada 2026 diperkirakan mencapai 1,37 juta ton dengan nilai sekitar Rp4,45 triliun. Sementara daging ayam diproyeksikan mencapai 990 ribu ton dengan nilai sekitar Rp41 triliun.

Komoditas sayuran juga diperkirakan mencapai 2,48 juta ton senilai hampir Rp9,92 triliun, sedangkan buah-buahan mencapai 2,5 juta ton dengan nilai sekitar Rp22,5 triliun.

“Semua komoditas ini menunjukkan dampak ekonomi yang besar, mulai dari telur, ayam, hingga buah-buahan,” tambahnya.

Suwandi menilai, efek berganda dari program MBG sangat membantu peningkatan kesejahteraan petani. Hal ini tercermin dari naiknya Nilai Tukar Petani (NTP) yang berdasarkan data BPS mencapai 125,45 pada Februari 2026, angka tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

“Ini menunjukkan kondisi petani yang semakin membaik,” jelasnya.

Selain itu, tingkat kemiskinan dan ketimpangan di pedesaan juga dilaporkan menurun. Rasio gini pada September 2025 tercatat sebesar 0,295, yang menjadi salah satu angka terendah dalam beberapa tahun terakhir.

“Artinya kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin semakin menyempit,” tutupnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update