Jakarta, Rakyatterkini.com – Harga minyak dunia mengalami penurunan setelah Iran kembali membuka akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal niaga pada Jumat (17/4/2026).
Kebijakan tersebut diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyatakan jalur strategis itu dibuka sepenuhnya untuk pelayaran komersial hingga masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat berakhir pekan depan.
Mengutip laporan BBC, harga minyak mentah Brent sempat terkoreksi hingga berada di level 88 dolar AS per barel pada hari Jumat, sebelum kembali naik ke sekitar 92 dolar AS.
Sebelumnya, sebelum pernyataan Iran tersebut, harga Brent sempat menyentuh 98 dolar AS per barel. Angka itu sendiri sudah lebih rendah dibandingkan beberapa hari sebelumnya yang masih bertahan di atas 100 dolar AS.
Namun demikian, harga minyak saat ini masih tergolong tinggi jika dibandingkan kondisi normal sebelum konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pecah, di mana Brent masih berada di bawah 70 dolar AS per barel.
Pada masa awal ketegangan, tepatnya sekitar Maret, harga minyak bahkan sempat melonjak tajam dan menembus level di atas 100 dolar AS, dengan puncaknya mencapai lebih dari 119 dolar AS per barel.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut keputusan Iran tersebut dengan menyebutnya sebagai perkembangan positif bagi stabilitas global.
Sebelumnya, Iran diketahui membatasi bahkan sempat menutup akses Selat Hormuz sejak awal Maret, beberapa hari setelah serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel. Kondisi itu menyebabkan arus kapal tanker melambat drastis, sehingga pasokan minyak dan gas di pasar dunia berkurang dan mendorong kenaikan harga energi.
Lonjakan harga minyak tersebut turut berdampak pada naiknya harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk bensin dan solar. Selain itu, industri penerbangan juga terdampak karena harga avtur ikut melonjak hingga sekitar 80 persen, yang memicu kekhawatiran terhadap biaya operasional maskapai penerbangan.(da*)


