Jakarta, Rakyatterkini.com – Harga minyak mentah global diperkirakan masih akan mengalami kenaikan pada pekan mendatang. Prediksi ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dunia yang berpotensi mengganggu kelancaran pasokan energi.
Analis keuangan Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan berpeluang menembus angka 116 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut tidak lepas dari memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara serta kelompok bersenjata. Situasi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas distribusi minyak secara global.
Ibrahim menjelaskan, ketegangan di wilayah tersebut berpotensi menghambat jalur distribusi energi, terutama di titik-titik strategis seperti Selat Hormuz. Jika gangguan terjadi, maka lonjakan harga minyak bisa menjadi lebih tajam.
Ia juga memperkirakan pergerakan harga minyak pada pekan depan akan lebih fluktuatif, dengan kisaran antara 99 dolar AS hingga berpotensi naik ke level 116 dolar AS per barel. Sentimen geopolitik disebut masih menjadi faktor utama yang mendorong penguatan harga dibandingkan faktor fundamental lainnya.
Selain itu, penguatan dolar AS turut memengaruhi dinamika harga minyak. Meskipun biasanya dolar yang menguat dapat menekan harga komoditas, dalam kondisi ketidakpastian global seperti saat ini, harga minyak justru tetap cenderung naik karena kekhawatiran terhadap pasokan.
Menurutnya, risiko geopolitik yang meningkat membuat pelaku pasar lebih waspada terhadap kemungkinan terganggunya produksi maupun distribusi minyak dari Timur Tengah, yang merupakan salah satu sumber energi utama dunia.
Ia menambahkan, pasar saat ini sangat responsif terhadap isu geopolitik. Kenaikan kecil dalam eskalasi konflik saja dapat langsung mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi.
Lebih lanjut, lonjakan harga minyak diperkirakan akan memberikan dampak luas terhadap perekonomian global. Hal ini termasuk potensi meningkatnya inflasi serta bertambahnya beban impor energi, khususnya bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Tak hanya itu, kenaikan harga minyak juga bisa menimbulkan efek berantai ke berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga harga barang dan jasa. Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat, kondisi ini dapat menekan daya beli masyarakat.
Dengan situasi tersebut, pemerintah dan pelaku pasar diharapkan terus memantau perkembangan geopolitik serta pergerakan harga energi dunia, mengingat volatilitas diperkirakan masih tinggi dalam waktu dekat.(da*)


