Notification

×

Iklan

Ekonomi Indonesia Kuartal I-2026 Diprediksi Tetap Tangguh

Selasa, 14 April 2026 | 06:19 WIB Last Updated 2026-04-13T23:19:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Di tengah kondisi global yang masih tidak menentu akibat konflik di kawasan Timur Tengah, perekonomian Indonesia pada kuartal I-2026 diperkirakan tetap mampu bertahan dan menunjukkan ketahanan yang baik.

Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi, dalam hasil kajiannya menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tersebut diproyeksikan berada di angka 5,54 persen.

Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan estimasi konsensus Bloomberg yang berada di level 5,25 persen, serta hampir sama dengan target pemerintah yang menargetkan 5,55 persen.

Fithra menjelaskan bahwa perbedaan proyeksi tersebut dipengaruhi oleh metode analisis yang memasukkan faktor basis rendah pada kuartal I-2025, ketika pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,87 persen.

“Proyeksi kami sedikit di atas konsensus karena kami secara eksplisit memasukkan efek basis rendah tahun lalu,” ujarnya, Senin (13/4).

Secara umum, ia menilai kinerja ekonomi di awal 2026 masih berada dalam kondisi yang cukup kuat. Bahkan, untuk keseluruhan tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 5,37 persen.

Angka tersebut dianggap mencerminkan keseimbangan antara dukungan program strategis pemerintah seperti Danantara dan Proyek Strategis Nasional (PSN), serta tekanan yang berasal dari situasi geopolitik global.

Bahkan dalam skenario yang lebih menantang, seperti meningkatnya ketegangan geopolitik secara signifikan, ekonomi Indonesia diperkirakan masih mampu tumbuh di atas 5 persen, yakni sekitar 5,18 persen.

Fithra juga menyoroti bahwa sejumlah proyeksi lembaga internasional seperti World Bank dan OECD yang lebih rendah, masing-masing di kisaran 4,7 persen dan 4,8 persen, dinilai belum sepenuhnya memperhitungkan potensi akselerasi dari program pemerintah yang diperkirakan mulai terasa pada paruh kedua tahun ini.

“Percepatan implementasi Danantara menjadi faktor penting yang belum sepenuhnya tercermin dalam proyeksi lembaga internasional,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa capaian pertumbuhan pada kuartal I-2026 tidak boleh langsung dianggap sebagai tanda penguatan struktural ekonomi. Jika efek basis rendah diabaikan, pertumbuhan riil Indonesia diperkirakan berada di kisaran 5,4 hingga 5,5 persen.

Sinyal yang Perlu Diwaspadai Pemerintah

Di balik proyeksi pertumbuhan yang relatif solid, terdapat sejumlah indikator yang menunjukkan perlunya kewaspadaan pemerintah, terutama terkait daya beli masyarakat.

Beberapa indikator tersebut antara lain penurunan penjualan mobil pada Maret yang turun 13,8 persen secara tahunan, serta pertumbuhan kumulatif kuartal I yang hanya 1,7 persen.

Selain itu, indeks penjualan ritel modern (MSI) juga mengalami perlambatan menjadi 6,2 persen, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 7,5 persen.

Tidak hanya itu, tingkat tabungan kelompok berpenghasilan rendah terus menurun dalam tiga tahun terakhir, disertai turunnya tingkat kepercayaan konsumen selama tiga bulan berturut-turut. Pelemahan juga terlihat pada sejumlah komponen PMI.

“Seluruh indikator tersebut menunjukkan adanya pelemahan daya beli riil yang berpotensi tidak terlihat jika hanya melihat angka PDB secara keseluruhan,” ujar Fithra.

Ia menambahkan bahwa kuartal II-2026 akan menjadi periode penting, terutama karena adanya potensi normalisasi ekonomi setelah periode Lebaran.

Dalam skenario dasar, program pemerintah masih diharapkan mampu menahan tekanan eksternal. Namun, tren penurunan tabungan pada kelompok berpenghasilan rendah menjadi risiko utama yang perlu mendapat perhatian serius.

“Peralihan ke kuartal II menjadi momen penting. Risiko pelemahan daya beli harus benar-benar diwaspadai, khususnya pada kelompok rentan,” tutupnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update