Jakarta, Rakyatterkini.com — Kasus seorang bayi berusia sekitar 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat berada di kawasan Gunung Ungaran memunculkan diskusi luas di masyarakat terkait keputusan orang tua membawa anak kecil ke lingkungan alam ekstrem seperti pegunungan.
Menanggapi hal tersebut, pakar kesehatan dr Dicky Budiman menilai bahwa membawa anak ke area dengan kondisi ekstrem bukan sekadar aktivitas wisata, melainkan keputusan yang memiliki tingkat risiko sangat tinggi dan perlu pertimbangan yang benar-benar matang.
Dicky menjelaskan bahwa dari sudut pandang medis, membawa anak ke lingkungan seperti gunung tanpa persiapan yang memadai dapat membahayakan keselamatan.
“Secara medis, membawa anak ke tempat dengan kondisi ekstrem tanpa kesiapan yang cukup termasuk keputusan berisiko tinggi,” ujarnya saat dihubungi, Senin (13/4/2026), dikutip dari iNews.id.
Ia menambahkan, penilaian terhadap tindakan tersebut tidak bisa disederhanakan menjadi benar atau salah semata. Menurutnya, hal itu bisa dianggap kurang tepat apabila dilakukan tanpa perhitungan risiko yang baik, namun tidak selalu berarti tindakan tersebut sepenuhnya keliru.
“Bukan soal melarang, tetapi memastikan keselamatan anak harus menjadi prioritas utama, bukan semata keinginan atau pengalaman orang tua,” tegasnya.
Dicky juga mengungkapkan bahwa di sejumlah negara, tindakan membawa anak ke kondisi berbahaya tanpa perlindungan yang memadai dapat berimplikasi pada hukum karena dianggap lalai terhadap keselamatan anak.
Ia menjelaskan dalam kajian epidemiologi risiko, kondisi ini dikenal sebagai “double vulnerability”, yaitu ketika anak sebagai kelompok rentan berada di lingkungan yang juga memiliki tingkat risiko tinggi.
“Artinya risikonya menjadi berlipat. Anak sudah rentan, ditambah berada di lingkungan ekstrem,” jelasnya.
Selain itu, ia menyoroti faktor kesalahan manusia yang sering terjadi, seperti orang tua yang terlalu percaya diri terhadap kemampuan anak, perencanaan perjalanan yang kurang tepat, hingga minimnya asupan nutrisi selama pendakian.
“Banyak kasus bukan semata karena alamnya, tetapi karena kesalahan manusia dan kurang tepat dalam menilai risiko,” tambahnya.(da*)


