Notification

×

Iklan

Takbir Idul Fitri Menyentak Luka Pengungsi Asam Pulau

Senin, 16 Maret 2026 | 09:33 WIB Last Updated 2026-03-16T02:33:00Z

Antara Takbir dan Air Mata: Nestapa Warga Huntara Asam Pulau Menyongsong Lebaran

Padang Pariaman, Rakyatterkini.com– Suara takbir dari pengeras suara masjid biasanya menghadirkan kebahagiaan. Namun, bagi 34 keluarga penghuni Hunian Sementara (Huntara) Asam Pulau, Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayutanam, bunyi itu justru mengingatkan mereka pada luka yang belum sembuh.

Di bilik-bilik sempit berukuran 4x6 meter, dinding tripleks menjadi saksi bisu antara kenangan hangat masa lalu dan kenyataan pahit yang mereka hadapi sekarang. Kurang dari sepuluh hari menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, huntara sunyi dari keriuhan baju baru; yang ada hanyalah kesunyian yang menyesakkan.

Bagi Rasya (14), Ramadan tahun ini terasa paling berat. Remaja yang baru memasuki masa remaja itu kerap terbangun di tengah malam, bibirnya gemetar sambil memanggil nama sang ibu yang telah tiada. Ingatannya masih tertuju pada akhir November 2025, ketika tanah longsor menghancurkan rumah mereka di Jorong Cubadak, sekaligus merenggut nyawa ibunya.

“Saat berbuka, Rasya sering menyebut nama ibunya, mengenang momen-momen mereka bersama,” ujar Yuliar (62), nenek Rasya, dengan suara serak saat ditemui di huntara, Selasa (10/3/2026).

Menantu Yuliar selamat dari bencana, meski mengalami luka berat di kaki. Namun, separuh hatinya seakan tertinggal di bawah material longsor. Kisah serupa dialami Syaiful Bahri (30). Di tengah keriuhan 34 keluarga, Syaiful lebih banyak memilih diam. Kehilangan istri dan anak sulungnya membuat ia harus menelan kenyataan pahit seorang diri.

Yuliar hanya bisa menatap anak bungsunya itu dengan penuh duka. Di bilik sempit tempat mereka tinggal, doa menjadi satu-satunya penopang. “Kami berharap Rasya dan Syaiful diberikan kekuatan untuk bangkit,” tuturnya di sela isak tangis.

Sementara itu, Desmi (50) memilih tetap tegar. Janda yang telah kehilangan suami lima tahun lalu harus menghadapi kenyataan pahit saat rumah warisannya dinyatakan masuk zona merah. “Sedih memang, tapi kalau hanya meratap, bagaimana sekolah anak-anak?” ujarnya. Dua anaknya yang masih bersekolah menjadi alasan Desmi terus bekerja serabutan. Pendidikan adalah warisan yang ia ingin berikan agar nasib anak-anaknya lebih baik.

Mayoritas keluarga di huntara tidak memiliki tanah pribadi untuk membangun Hunian Tetap (Huntap). Mereka hidup di antara trauma bencana dan ketidakpastian ekonomi. Kekhawatiran terbesar adalah relokasi yang terlalu jauh, karena dapat memutus mata pencaharian mereka.

Di tengah keterbatasan, semangat berbagi tetap tumbuh. Asih (26) dan warga lain sering menyisihkan bantuan sembako untuk tetangga di kampung lama. “Kita tidak menikmati sendiri, sebagian kita sisihkan untuk tetangga,” kata Asih.

Nasib yang sama-sama mereka tanggung telah menumbuhkan ikatan baru yang kuat, melebihi sekadar hubungan darah. Di bilik-bilik sempit Asam Pulau, doa-doa terus dipanjatkan. Di antara dinding tripleks dan lantai semen yang keras, mereka menanam harapan, tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga menjaga martabat sambil menanti janji Hunian Tetap yang belum tiba.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update