Notification

×

Iklan

Ramadan Penuh Duka, Syaiful Kehilangan Istri dan Anak Akibat Longsor Padang Pariaman

Jumat, 13 Maret 2026 | 02:16 WIB Last Updated 2026-03-13T02:24:29Z

Duka di Balik Riuh Huntara: Syaiful Bahri Menanti Lebaran dalam Sepi di Asam Pulau

Kayutanam, Rakyatterkini.com – Ramadan 1447 H kali ini membawa kesedihan mendalam bagi Syaiful Bahri (30). Di tengah hiruk-pikuk 34 keluarga yang tinggal di Hunian Sementara (Huntara) Asam Pulau, Nagari Anduriang, Kecamatan 2X11 Kayutanam, Syaiful lebih memilih diam. 

Baginya, bisa terlelap meski dikelilingi kebisingan dinding-dinding darurat adalah kemewahan sesaat untuk melupakan kenyataan pahit yang menimpa hidupnya.

Saat ditemui Selasa (10/3), Syaiful tampak hanya berbaring di atas dipan kayu di ruang sempit berukuran 4x6 meter yang dibangun Polri. Ruang itu kini menjadi saksi bisu hari-harinya yang penuh duka. “Syaiful masih sangat terpukul secara mental,” ungkap Yuliar (62), ibu Syaiful, yang setia menemaninya di huntara.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Padang Pariaman pada November 2025 bukan sekadar menghancurkan ekonomi keluarga, tapi juga merenggut separuh jiwa Syaiful. Ia kehilangan istri tercinta, Yulia Cahaya (27), yang tengah mengandung anak kedua mereka, serta putra sulungnya yang baru berusia 2,5 tahun.

Yuliar masih jelas mengingat detik-detik mencekam itu. Pada penghujung November, hujan deras tak kunjung reda mengguyur Sumatera Barat. Meski langit terus tumpah selama seminggu, tidak ada firasat aneh yang dirasakannya. Saat itu, Yuliar sedang di dapur untuk shalat, ditemani menantu dan cucunya yang berkunjung. Kedamaian itu pun pecah ketika tanah dan pohon besar longsor menghantam rumah.

“Suara terakhir yang saya dengar adalah teriakan ‘Abang’,” kenang Yuliar dengan suara bergetar. Panggilan itu menjadi komunikasi terakhir sebelum semuanya hening. Yulia dan anaknya di ruang tamu tak sempat menyelamatkan diri ketika material longsor menyapu tempat tinggal mereka.

Tragedi ini menjadi titik paling kelam dalam sejarah hidup keluarga tersebut. Selama puluhan tahun menetap di kawasan itu, Yuliar mengaku belum pernah mengalami bencana serupa. “Selama ini tidak pernah terjadi bencana. Di sana ada rumah saya, rumah anak, juga rumah adik dan kakak saya,” kenangnya.

Bagi Yuliar, yang telah lebih dari setengah abad menjalani hidup, 2026 menjadi tahun terberat. Di usia senja, pasca ditinggal suami lima tahun silam, impiannya hanyalah hidup damai dan khusyuk beribadah. Memiliki cukup makanan dan minuman setiap hari sudah menjadi kebahagiaan yang tak ternilai.

Namun, takdir berkata lain. Yuliar kini memulai kembali hidupnya dari titik nadir sebagai pengungsi, tinggal bersama Syaiful yang masih dibalut duka. Meski berat, ia berusaha ikhlas, memohon pengganti yang terbaik untuk harta yang hilang, dan mendoakan agar orang-orang tercinta mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Di bilik huntara 4x6 meter, doa senantiasa dipanjatkan. Ia berharap bisa kembali memiliki rumah permanen untuk menampung anak-cucu yang tersisa, serta modal usaha bagi Syaiful agar bisa memulai kembali hidupnya. “Dia hanya tamatan SD, mau usaha modal saat ini tidak ada. Kalau bisa, kami berharap selain huntap juga diberikan modal usaha,” ujarnya lirih.

Berdasarkan data BPBD Padang Pariaman, bencana yang terjadi 22–28 November 2025 menimbulkan kerugian besar. Hingga 14 Desember 2025, tercatat 45 orang meninggal, 1 hilang, dan 11 luka-luka. Sebanyak 34.182 jiwa terdampak, dengan 848 jiwa masih menjadi pengungsi per 13 Desember. Kerusakan rumah mencapai 4.842 unit, terdiri dari 2.652 rusak ringan, 221 rusak sedang, dan 405 rusak berat.

Selain itu, 29 ruas jalan dan 43 jembatan mengalami kerusakan, 69 irigasi/bendungan rusak, 3 fasilitas pendidikan rusak berat, serta 11 fasilitas ibadah rusak parah.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update