Notification

×

Iklan

Putin, Produksi Minyak di Selat Hormuz Bisa Terhenti Sebulan Lagi

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:16 WIB Last Updated 2026-03-10T19:16:00Z

Pompa minyak sedang beroperasi di ladang minyak.

Jakarta, Rakyatterkini.com – Presiden Rusia, Vladimir Putin, memperingatkan bahwa produksi minyak yang bergantung pada Selat Hormuz berpotensi berhenti sepenuhnya dalam waktu satu bulan. 

Ia menyoroti risiko serius konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran terhadap stabilitas pasar energi global.

Dalam pertemuan pemerintah mengenai pasar energi global pada Senin, Putin menyebutkan bahwa sekitar sepertiga ekspor minyak dunia melewati Selat Hormuz tahun lalu. “Jumlahnya sekitar 14 juta barel per hari, dan 80% ditujukan ke negara-negara di Asia dan Pasifik,” ujar Putin. Ia menambahkan, “Saat ini, rute ini secara de facto tertutup.”

Aktivitas lalu lintas di selat tersebut dilaporkan menurun hingga 80% selama seminggu terakhir, menyusul serangkaian serangan udara AS dan Israel terhadap Iran yang memicu aksi balasan dari Teheran. Beberapa kapal tanker mengalami serangan, memicu lonjakan harga minyak mentah di atas USD100 per barel dan meningkatkan ekspektasi langkah-langkah darurat dari Uni Eropa dan negara ekonomi utama lainnya.

“Produksi minyak yang mengandalkan Selat Hormuz berisiko berhenti total dalam beberapa minggu ke depan. Saat ini produksinya sudah menurun,” kata Putin. Ia menambahkan, pemulihan produksi bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Putin mencatat, harga minyak global sudah melonjak lebih dari 30% hanya dalam satu pekan terakhir. Gangguan pasokan ini juga berpotensi mendorong inflasi dan menurunkan output industri. “Dunia akan segera menghadapi realitas harga baru… dan ini tak terhindarkan,” tegasnya.

Meski demikian, Putin menegaskan bahwa Rusia tetap menjadi pemasok energi yang andal dan akan terus memasok minyak serta gas kepada negara-negara mitra, termasuk beberapa negara Asia dan anggota Uni Eropa seperti Slovakia dan Hongaria.

Di tengah ketegangan di Timur Tengah, Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, bersama Menteri Luar Negeri Peter Szijjarto, mendorong Uni Eropa untuk mencabut larangan impor minyak dan gas dari Rusia. Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sebelumnya mengumumkan pelonggaran sanksi terhadap sejumlah perusahaan minyak Rusia untuk menstabilkan pasar.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update