Jakarta, Rakyatterkini.com – PT Pertamina (Persero) menegaskan kesiapan operasionalnya tetap terjaga meski terjadi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, setelah Iran menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional. Langkah ini penting mengingat jalur tersebut menjadi akses vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan perseroan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan kelancaran operasional sekaligus keselamatan kru. “Pertamina telah menyiapkan strategi mitigasi risiko serta memperkuat komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI, KJRI, dan otoritas setempat,” ujar Baron, Senin (2/3/2026).
Beberapa unit bisnis strategis Pertamina yang terdampak langsung antara lain:
PT Pertamina International Shipping (PIS) – menangani transportasi energi di tingkat global.
Pertamina Internasional EP (PIEP) – mengelola operasi hulu di Basra, Irak.
Pertamina Patra Niaga – bertanggung jawab atas pengadaan minyak mentah dan produk dari Timur Tengah.
Untuk menghadapi potensi gangguan pasokan, Pertamina memanfaatkan portofolio sumber yang terdiversifikasi, baik dari produksi dalam negeri maupun mitra internasional. Optimalisasi kilang domestik juga dilakukan untuk menjaga keseimbangan distribusi BBM dan LPG ke seluruh wilayah Indonesia.
“Sebagai garda terdepan energi nasional, kami memperketat pengawasan dan memastikan ketahanan pasokan crude, BBM, dan LPG tetap terjaga agar kebutuhan masyarakat terpenuhi,” tambah Baron.
Penutupan Selat Hormuz ini dilakukan sebagai respons Iran terhadap agresi militer Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026), dan akan berlaku hingga waktu yang belum ditentukan.(da*)


