Notification

×

Iklan

Penutupan Selat Hormuz Picu Krisis Energi Global

Selasa, 17 Maret 2026 | 22:39 WIB Last Updated 2026-03-17T15:39:00Z

Pelabuhan Yanbu di Laut Merah jadi alternatif pengganti Selat Hormuz. 

Jakarta, Rakyatterkini.com – Penutupan Selat Hormuz memicu gejolak besar di pasar energi global. Upaya Arab Saudi mengalihkan ekspor minyak melalui Pipa Laut Merah di pelabuhan Yanbu ternyata belum mampu menutupi kekurangan akibat terganggunya rute utama, sehingga pasar Asia menghadapi defisit pasokan.

Menurut laporan Wio News, Selat Hormuz – jalur sempit yang strategis antara Iran dan Semenanjung Arab – saat ini ditutup setelah eskalasi serangan AS-Israel, yang membuat pasokan minyak dunia terganggu. Arab Saudi mencoba mengalihkan sebagian besar ekspornya melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah sebagai alternatif. Namun, langkah ini tidak cukup untuk menggantikan volume besar yang biasanya melewati rute Teluk Persia.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur transit minyak paling vital di dunia. Pada Februari lalu, sebelum konflik meningkat, Arab Saudi mengekspor sekitar 7,2 juta barel per hari melalui terminal utama Ras Tanura dan Juaymah, yang memiliki fasilitas langsung untuk memuat kapal tanker besar ke pasar Asia.

Yanbu: Alternatif, tapi Terbatas

Pipa Timur-Barat Sepanjang 1.200 Km
Untuk menghindari Selat Hormuz, Arab Saudi memanfaatkan Pipa Timur-Barat yang membentang 1.200 kilometer ke Yanbu. Pipa ini menjadi jalur penting, tetapi menghadapi dua kendala besar.

Kapasitas Maksimal Tidak Mencukupi
Meski memiliki kapasitas teoritis 5 juta barel per hari, kemampuan pemuatan di Yanbu jauh lebih rendah. Artinya, jalur ini belum mampu menangani volume 7,2 juta barel per hari yang biasa melalui Teluk Persia.

Logistik Kurang Efisien
Rute dari Yanbu ke pasar Asia lebih panjang dibanding dari Teluk Persia, sehingga waktu pengiriman lebih lama dan biaya operasional meningkat. Kondisi ini menambah tekanan pada rantai pasok global yang sudah terganggu.

Dampak Global dan Ketegangan Politik

Perubahan logistik ini mulai berdampak nyata di pasar. Perusahaan Sinopec China melaporkan penurunan aktivitas penyulingan sebesar 10 persen, sementara Jepang mulai mengandalkan cadangan strategis nasional untuk mengantisipasi gangguan pasokan. Kilang-kilang di Eropa juga mengalami pengurangan volume, menandakan efek global dari ketegangan ini.

Di sisi lain, posisi AS juga masih fluktuatif. Presiden Trump baru-baru ini menekankan kemandirian energi AS dan mempertanyakan keterlibatan militer di Teluk, sambil mendorong sekutu regional untuk lebih bertanggung jawab atas patroli perairan mereka sendiri. Hal ini menimbulkan ketidakpastian geopolitik yang tinggi di kawasan.

Secara keseluruhan, pelabuhan Yanbu berfungsi sebagai jalur darurat yang penting, tetapi bukan pengganti penuh bagi Selat Hormuz. Selama jalur utama ini tetap diperebutkan, risiko kekurangan pasokan energi global akan terus berlanjut.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update