Jakarta, Rakyatterkini.com – Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap perekonomian global pada 2028.
Berdasarkan laporan hasil penelitian dari Citrini Research yang dianalisis oleh Alap Shah, skenario krisis global digambarkan di mana AI, yang semula dianggap sebagai sumber inovasi dan efisiensi, justru menimbulkan ketidakstabilan ekonomi.
Dalam laporan bertajuk "The 2028 Global Intelligence Crisis", diproyeksikan masa depan di mana AI yang semakin canggih memicu pengangguran massal, menurunnya daya beli masyarakat, serta ketimpangan ekonomi yang kian melebar.
Awalnya, AI memberikan kontribusi signifikan terhadap produktivitas perusahaan dan efisiensi operasional. Sejak 2026, banyak perusahaan besar dan pasar saham di Amerika Serikat mencatat pertumbuhan pesat berkat adopsi teknologi AI yang menggantikan sejumlah besar pekerjaan manusia.
Namun, seiring dengan itu, terjadi gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran, terutama di sektor perkantoran, karena peran manusia digantikan oleh agen AI yang lebih efisien.
Dampaknya terlihat pada konsumsi riil, yang menjadi penggerak utama ekonomi dunia. Meskipun angka Produk Domestik Bruto (PDB) naik secara nominal, daya beli masyarakat menurun drastis karena mesin tidak mengkonsumsi, sementara pekerja yang kehilangan pekerjaan tidak memiliki penghasilan untuk membeli barang dan jasa.
Fenomena ini dikenal sebagai “Ghost GDP” atau PDB Hantu: angka PDB tampak tinggi karena efisiensi meningkat, tetapi aliran uang dalam ekonomi riil berkurang.
Ketimpangan ekonomi pun semakin terasa. Segelintir orang kaya tetap mampu berbelanja, sedangkan mayoritas masyarakat kehilangan daya beli.
Siklus efisiensi yang terus berjalan—di mana perusahaan menggantikan lebih banyak tenaga kerja dengan AI untuk menekan biaya—justru memicu krisis ekonomi struktural. Sektor ritel dan konsumsi menurun karena kurangnya konsumen, sementara perusahaan terus berinovasi demi mempertahankan margin keuntungan.
Kondisi ini menimbulkan tantangan fiskal bagi negara-negara yang bergantung pada pajak penghasilan. Beberapa pemerintah diprediksi akan mencari solusi alternatif, seperti pajak atas komputasi AI atau pembagian hasil dari penggunaan teknologi cerdas.
Laporan Citrini Research menekankan bahwa meski AI meningkatkan efisiensi dan menekan biaya, manusia tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga kelangsungan ekonomi global.
Tanpa pendapatan yang memadai, konsumen yang sebelumnya aktif membeli barang dan jasa akan menghilang, menciptakan paradoks di mana produksi meningkat tetapi pasar pembeli menyusut.
Pemerintah dan pelaku usaha dunia akan menghadapi tantangan besar untuk menyeimbangkan inovasi teknologi dengan kebutuhan dasar manusia demi menjaga stabilitas dan keberlanjutan ekonomi global.(da*)


