Notification

×

Iklan

Dony Oskaria: Ekonomi Sumbar di Bawah Inflasi, Pemiskinan Mengancam

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:47 WIB Last Updated 2026-02-22T01:20:29Z

Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Dony Oskaria. 

Barusangkar, Rakyatterkini.com – Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan kondisi ekonomi Sumatera Barat saat ini harus menjadi peringatan serius bagi seluruh pemimpin daerah. 

Pernyataan ini disampaikannya saat membuka kegiatan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana di Rambatan, Tanah Datar.

Menurut Dony, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang hanya sekitar 3,5 persen berada di bawah tingkat inflasi, yang mencapai 6 persen. Situasi ini berpotensi memicu pemiskinan berkelanjutan, karena kenaikan pendapatan masyarakat kalah cepat dibanding biaya hidup. 

“Jika pertumbuhan ekonomi di bawah inflasi, itu artinya pemiskinan terjadi setiap tahun. Pendapatan naik sedikit, tetapi biaya hidup naik lebih besar. Secara logika, ini adalah pemiskinan massal,” ujarnya.

Dony menilai fakta tersebut harus menjadi motivasi bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah-langkah pemulihan ekonomi. Ia mengingatkan, Sumatera Barat pernah menjadi salah satu daerah dengan performa ekonomi terbaik di Pulau Sumatera, tetapi kini tertinggal dibanding provinsi lain. 

Bahkan beberapa kantor wilayah bank BUMN yang dahulu berlokasi di Sumbar kini berpindah ke daerah lain seperti Pekanbaru, mengikuti pertumbuhan ekonomi yang lebih menjanjikan.

“Dulu kantor wilayah bank besar ada di Sumbar, sekarang pindah karena pertumbuhan di daerah lain lebih cepat. Ini realita yang harus kita akui agar bisa bangkit,” tegas Dony.

Tak hanya persoalan ekonomi, Dony juga menyoroti tantangan sosial yang menghambat pembangunan manusia di Sumatera Barat. Tingginya angka stunting dan maraknya peredaran narkoba menjadi ancaman serius terhadap kualitas generasi muda. 

Menurutnya, sebuah daerah sulit berkembang jika generasi penerusnya menghadapi masalah kesehatan dan penyalahgunaan narkotika.

“Kita ingin daerah maju, tapi generasi kita banyak yang stunting. Selain itu, peredaran narkoba juga mengkhawatirkan. Ini fakta yang harus kita hadapi bersama. Saya titipkan kepada aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk memberantasnya,” ujarnya.

Dony menegaskan, pembangunan huntap di Tanah Datar tidak boleh dilihat sekadar sebagai proyek rumah. Menurutnya, proyek ini harus menjadi bagian dari strategi besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Ia berharap kawasan huntap bisa berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru melalui sektor pertanian, peternakan, usaha mikro, dan pendidikan.

Selain itu, Dony juga menyampaikan rencana dukungan pembangunan Sekolah Rakyat sebagai pusat pengembangan generasi muda di Tanah Datar. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dianggapnya sebagai kunci jika Sumatera Barat ingin kembali menjadi daerah yang maju.

“Hunian tetap ini harus menjadi simbol kebangkitan. Bukan hanya tempat tinggal, tapi pengungkit ekonomi dan pembangunan manusia. Kami ingin Tanah Datar menjadi contoh bagi Sumatera Barat,” kata Dony, yang merupakan putra asli Tanah Datar.

Ia mengajak pemerintah daerah, DPRD, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial. Dony menekankan, tanpa langkah nyata, Sumatera Barat berisiko tertinggal lebih jauh.

“Sumatera Barat harus bangkit. Kita tidak boleh puas dengan kondisi sekarang. Jika pertumbuhan ekonomi tidak lebih tinggi dari inflasi, masyarakat akan semakin miskin. Ini harus menjadi cambuk bagi kita semua untuk bekerja lebih keras,” ujarnya.

Dony optimistis, jika semua pihak bersatu, Sumatera Barat dapat kembali menjadi provinsi yang maju dan kompetitif. Dengan pembangunan huntap, penguatan sektor ekonomi rakyat, pendidikan, serta pemberantasan narkoba dan stunting, ia yakin Tanah Datar dapat menjadi percontohan kebangkitan Sumatera Barat di masa depan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update