Notification

×

Iklan

Deflasi Terjadi di Aceh, Sumut, dan Sumbar Pasca Bencana

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:11 WIB Last Updated 2026-02-05T11:11:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Desember 2025 mengalami inflasi di beberapa wilayah terdampak bencana, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Inflasi tertinggi tercatat di Aceh sebesar 3,6 persen, diikuti Sumatra Utara 1,6 persen, dan Sumatra Barat 1,48 persen. Angka inflasi Aceh menjadi yang tertinggi di seluruh kota di Indonesia pada akhir 2025.

Namun, pada Januari 2026, kondisi tersebut berbalik menjadi deflasi. Data BPS menunjukkan Aceh mengalami deflasi -0,15 persen, Sumatra Utara -0,75 persen, dan Sumatra Barat -1,15 persen.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasari, menjelaskan deflasi ini terjadi karena harga komoditas mulai turun setelah bencana yang melanda pada akhir November 2025. Ia menekankan, penurunan harga ini menunjukkan efektivitas langkah pemerintah dalam mempercepat pemulihan, termasuk pembukaan akses jalan dan pemulihan infrastruktur dasar.

Amalia merinci beberapa komoditas yang menyumbang deflasi di masing-masing wilayah. Di Aceh, harga telur ayam ras, cabai merah, beras, bahan bakar rumah tangga, dan minyak goreng mengalami penurunan signifikan. Sementara di Sumatra Utara, penurunan harga cabai merah, cabai rawit, kelapa, bawang merah, dan bayam menjadi kontributor utama deflasi. Di Sumatra Barat, cabai merah, tarif air PAM, bawang merah, tarif angkutan antarkota, dan cabai hijau menjadi penyumbang deflasi terbesar.

“Secara umum, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi utama di ketiga wilayah ini, menandakan proses pemulihan pasca-bencana mulai berjalan,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Deflasi Nasional Januari 2026

Secara nasional, Indonesia mencatat deflasi 0,15 persen pada Januari 2026. IHK turun dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75, menandakan tekanan harga melemah di awal tahun.

Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan penurunan 1,03 persen dan andil deflasi -0,30 persen. 

Komoditas utama yang mendorong deflasi di kelompok ini antara lain cabai merah (andil -0,16 persen), cabai rawit (-0,08 persen), bawang merah (-0,07 persen), daging ayam ras (-0,05 persen), dan telur ayam (-0,03 persen). Selain itu, bensin dan tarif angkutan udara juga masing-masing memberikan andil deflasi -0,03 persen.

Di sisi lain, beberapa komoditas tercatat mengalami inflasi pada Januari 2026. Emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,16 persen, diikuti ikan segar (0,06 persen) dan tomat (0,02 persen).(da)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update