Notification

×

Iklan

Pariaman Terancam Kehilangan Atlet Jelang Porprov XVI

Minggu, 18 Januari 2026 | 14:43 WIB Last Updated 2026-01-18T07:43:00Z

Dua Atlet asal Pariaman tengah berfoto dengan mendaki yang mereka peroleh.

Pariaman, Rakyatterkini.com – Dunia olahraga Kota Pariaman tengah diliputi kekhawatiran. Kota yang dikenal sebagai lumbung atlet unggulan Sumatera Barat ini menghadapi risiko eksodus talenta terbaiknya.

Ancaman itu semakin nyata menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat, yang dijadwalkan berlangsung pada Juni–Juli 2026. Sejumlah atlet potensial bahkan menyatakan kesiapannya untuk pindah dan membela daerah lain karena hingga kini belum ada kepastian dari Pemerintah Kota maupun KONI Pariaman mengenai keikutsertaan mereka.

Situasi ini kian kompleks setelah KONI Sumatera Barat membuka peluang regulasi yang memungkinkan atlet berpindah daerah. Kebijakan ini diambil demi melindungi karier atlet, agar mereka tidak kehilangan kesempatan karena ketidaksiapan daerah asal.

Ketua Umum KONI Sumbar, Hamdanus, menegaskan bahwa kepentingan atlet menjadi prioritas utama. “Selagi ber-KTP Sumatera Barat, silakan turun di Porprov. Jika daerahnya tidak ikut, mereka boleh membela daerah lain. Sayang sekali jika potensi atlet terbuang karena masalah administratif atau anggaran di tingkat daerah,” ujar Hamdanus saat membuka Tes Kemampuan Calon Atlet Binaan Pelatda Sumbar 2026 di Padang, Rabu (14/1/2026).

Ketidakpastian ini berdampak pada motivasi atlet. Salah satunya Zikrha Dwi Putri, atlet Teqball asal Pariaman yang meraih medali perak SEA Games 2025. Porprov bukan hanya ajang perebutan medali bagi Zikrha, tetapi juga kesempatan penting untuk mempertahankan jam terbang dan menilai keberhasilan pembinaan. Tanpa kepastian dari Pariaman, pindah ke daerah lain menjadi opsi realistis demi kariernya.

Hal serupa juga terjadi di cabang olahraga sepatu roda. Ketua Harian Perserosi Sumbar, Arfan Rosyda, mengungkapkan sejumlah atlet unggulan Kota Pariaman telah menjalin komunikasi untuk membela daerah lain. Mereka termasuk Salsabila Ghina Fitri, peraih emas Babak Kualifikasi (BK) PON Aceh–Sumut, serta Hana Fatihatul Aulia, Dafa Muhammad Alfauzen, dan Dimmy Nobel Alhamdi, yang meraih medali perak dan perunggu di ajang yang sama.

Arfan menekankan bahwa keputusan atlet berpindah adalah respons logis terhadap ketidakjelasan masa depan mereka. “Bukan hanya atlet sepatu roda dari Pariaman. Atlet dari daerah lain juga menyatakan hal yang sama. Jika daerahnya absen di Porprov, mereka akan membela daerah lain. Ini murni demi karier, bukan soal loyalitas,” jelasnya, Sabtu (17/1/2026).

Kepanikan atlet wajar mengingat Porprov Sumbar pernah vakum selama delapan tahun. Absennya kompetisi dalam waktu lama memutus rantai pembinaan dan mengurangi peluang berkompetisi secara berjenjang.

Kini, menjelang Porprov XVI 2026, ketidakpastian dukungan dari pemerintah daerah menjadi tantangan baru. Tanpa pernyataan resmi atau jaminan anggaran dari Pemerintah Kota dan KONI Pariaman, risiko kehilangan atlet berprestasi menjadi kenyataan yang mengancam masa depan olahraga Kota Pariaman.

Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait di Pariaman belum memberikan keterangan resmi mengenai langkah strategis untuk menahan eksodus para atlet tersebut.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update