Jakarta, Rakyatterkini.com – Sebuah video menampilkan Kepala Desa Ngepringan, Kabupaten Sragen, Sunarso, terjatuh dan mandi lumpur di jalan berlubang, menjadi viral di media sosial. Peristiwa ini terjadi secara spontan saat Sunarso melintasi jalan yang rusak parah.
Dalam rekaman amatir, Sunarso tampak mengenakan Pakaian Dinas Lengkap (PDL) saat kehilangan keseimbangan dan terperosok ke kubangan lumpur di ruas jalan Mlale–Ngepringan, Kecamatan Jenar. Kondisi jalan disebut warga mirip sawah yang baru dibajak, penuh lubang dan lumpur pekat.
Sunarso menegaskan, aksi tersebut bukanlah bentuk protes atau sindiran terhadap pemerintah. “Kejadian ini murni spontan saat saya hendak berangkat kerja. Jalan sangat licin dan berlumpur. Ini bukan rekayasa, melainkan kondisi yang warga kami hadapi sehari-hari,” ujarnya.
Jalan sepanjang tujuh kilometer ini menjadi jalur vital bagi warga untuk menuju sekolah, pasar, dan rumah sakit. Kerusakan jalan sudah berlangsung bertahun-tahun, dan perbaikan terakhir dilakukan sekitar lima tahun lalu.
Salah seorang warga, Narto, menambahkan, masyarakat sering melakukan kerja bakti swadaya untuk menambal jalan agar kendaraan, termasuk truk pengangkut hasil panen, tetap bisa melintas. “Anak-anak sekolah paling terdampak saat hujan. Banyak yang terjatuh, ban kendaraan pecah, bahkan mogok. Kami berharap pemerintah kabupaten segera mengambil langkah nyata,” kata Narto.
Menanggapi viralnya video tersebut, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sragen, Aribowo Sulistyo, menjelaskan bahwa ruas jalan Bago–Mlale sudah masuk dalam rencana pembangunan tahun 2025. Namun, rencana itu batal karena refocusing anggaran.
“Untuk tahun anggaran 2026, kami hanya bisa melakukan perbaikan darurat. Material urukan pasir dan batu (Sirdam) akan segera diturunkan agar jalan lebih aman dilalui. Pembangunan permanen akan diusulkan kembali melalui APBD atau Dana Alokasi Khusus (DAK),” jelas Aribowo.
Sampai perbaikan permanen terealisasi, warga Kecamatan Jenar harus tetap berhati-hati saat melintasi jalur yang kini dijuluki “bubur lumpur,” terutama di puncak musim hujan.(da*)


