Notification

×

Iklan

Iran Tegaskan Kendali Penuh Selat Hormuz

Kamis, 29 Januari 2026 | 14:14 WIB Last Updated 2026-01-29T07:14:00Z

Iran umumkan sudah kendalikan penuh Selat Hormuz

Jakarta, Rakyatterkini.com – Iran menyatakan pasukan militernya saat ini memegang kendali sepenuhnya atas wilayah darat, laut, dan udara di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Amerika Serikat (AS), yang dinilai kian mendekati konflik terbuka.

“Iran tidak berniat memulai perang, tetapi kami siap sepenuhnya,” ujar Brigadir Jenderal Mohammad Akbarzadeh, salah satu komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), seperti dikutip kantor berita Fars, Kamis (29/1/2026).

Ia menegaskan, apabila konflik benar-benar terjadi, Iran tidak akan mundur sedikit pun. “Jika perang pecah, kami akan terus melangkah maju tanpa kompromi,” katanya.

Akbarzadeh juga menjelaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz kini telah menggunakan sistem modern berbasis teknologi cerdas. Dengan sistem tersebut, Iran mampu memantau seluruh aktivitas di permukaan laut, bawah laut, hingga udara secara berkelanjutan.

Menurut dia, Iran juga memiliki kewenangan dalam menentukan kapal-kapal berbendera asing yang boleh melintasi selat strategis tersebut. Meski demikian, Teheran menegaskan tidak ingin perekonomian global terdampak.

“Kami tidak ingin ekonomi dunia terganggu. Namun, Amerika Serikat dan sekutunya tidak akan dibiarkan mengambil keuntungan dari konflik yang mereka ciptakan,” ujarnya.

Akbarzadeh turut mengingatkan negara-negara di kawasan bahwa setiap wilayah darat, laut, atau udara yang digunakan untuk menyerang Iran akan dianggap sebagai tindakan permusuhan. Pesan tersebut, katanya, telah disampaikan langsung kepada pihak-pihak regional.

Ia juga menyinggung bahwa Iran masih memiliki kemampuan tambahan yang belum diungkapkan ke publik dan akan disampaikan pada waktu yang dianggap tepat.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Kawasan sempit ini menjadi lintasan utama perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Sekitar sepertiga pengiriman minyak global melalui jalur laut dan seperlima konsumsi minyak dunia bergantung pada selat ini.

Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak dan produk turunannya dikirim melalui Selat Hormuz, dengan sebagian besar tujuan ke negara-negara Asia, khususnya Tiongkok. Mayoritas ekspor minyak Iran juga melewati jalur ini.

Data menunjukkan sekitar 85 persen ekspor minyak Irak melintasi Selat Hormuz. Arab Saudi menyumbang sekitar 35 persen dari total volume minyak yang melalui jalur tersebut, disusul Uni Emirat Arab sekitar 20 persen, dan Irak sekitar 27 persen. Selain itu, hampir 20 persen perdagangan LNG dunia juga bergantung pada Selat Hormuz.

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat setelah terjadinya gelombang protes anti-pemerintah di Iran. Pemerintah AS menyatakan seluruh opsi, termasuk langkah militer, tetap terbuka dalam menyikapi situasi tersebut.

Sejumlah pejabat Iran telah menegaskan bahwa setiap serangan dari AS akan dibalas dengan respons cepat dan menyeluruh.

Pada Rabu lalu, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Teheran. Ia menyebut serangan berikutnya akan jauh lebih besar dibandingkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun sebelumnya.

Melalui akun Truth Social, Trump menyatakan bahwa “armada besar” tengah bergerak mendekati wilayah Iran. Ia menegaskan armada tersebut siap menjalankan misi secara cepat dan tegas, sembari mendesak Iran untuk menyepakati masa depan program nuklirnya.

“Jika tidak ada kesepakatan, serangan selanjutnya akan jauh lebih buruk,” tulis Trump.

Iran menolak tekanan tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan bahwa jika AS menyerang lebih dulu, Iran akan memberikan balasan yang tegas dan tidak terbatas pada respons proporsional.

Ia menambahkan bahwa balasan tersebut dapat menyasar pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan, serta memperingatkan bahwa Israel juga berpotensi terdampak.

“Iran tidak sedang berunding dengan Amerika Serikat. Prioritas utama kami adalah kesiapan penuh, bahkan lebih dari 200 persen, untuk mempertahankan diri,” kata Gharibabadi.

Sementara itu, Misi Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan pernyataan bernada keras melalui media sosial X. Mereka mengingatkan bahwa perang AS di Afghanistan dan Irak telah menghabiskan lebih dari USD7 triliun dan merenggut lebih dari 7.000 nyawa warga Amerika.

“Iran terbuka untuk dialog yang dilandasi saling menghormati dan kepentingan bersama. Namun jika dipaksa, Iran akan membela diri dan merespons dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis pernyataan tersebut.

Di sisi lain, kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan telah tiba di Timur Tengah, didampingi tiga kapal perusak bersenjata rudal jelajah Tomahawk. Selain membawa jet tempur siluman F-35C dan F/A-18, AS juga mengerahkan pesawat tempur F-15E Strike Eagle, sistem pertahanan udara Patriot, serta THAAD ke kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Iran kembali mengingatkan Presiden Trump agar tidak melakukan kesalahan perhitungan. Pada akhir pekan lalu, IRGC menyatakan kesiapan militernya berada pada tingkat tertinggi dan siap menghadapi segala bentuk agresi dari Amerika Serikat maupun Israel, dengan janji konsekuensi berat bagi pihak yang menyerang.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update