Notification

×

Iklan

Indonesia Tekan Impor Solar 3 Juta Ton Lewat B40

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:46 WIB Last Updated 2026-01-10T14:46:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan keberhasilan Indonesia menekan impor solar sekitar 3 juta ton pada tahun 2025. Pencapaian ini merupakan dampak langsung dari penerapan kebijakan mandatori biodiesel B40 yang mulai diberlakukan sejak 1 Januari 2025.

Biodiesel B40 sendiri merupakan bahan bakar nabati (BBN) yang mengandung 40 persen minyak sawit dan 60 persen solar. Sejak awal, kebijakan ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar jenis solar.

“Saya bersyukur, pada tahun 2024 impor solar kita masih sekitar 8,3 juta ton. Tahun 2025, angkanya turun menjadi sekitar 5 juta ton. Ini berkat program biodiesel B40 yang kita jalankan,” kata Bahlil dalam konferensi pers Kementerian ESDM di Jakarta, Kamis (8/1/2025).

Bahlil menekankan, penurunan impor solar ini menjadi pijakan penting bagi pemerintah untuk mendorong kemandirian energi nasional. Sebagai langkah lanjutan, pemerintah kini menyiapkan penerapan mandatori biodiesel B50 yang direncanakan mulai berlaku pada paruh kedua 2026. Dengan peningkatan kadar biodiesel ini, diharapkan kebutuhan impor solar akan semakin berkurang.

Selain kebijakan biodiesel, upaya pengurangan impor solar juga didukung oleh beroperasinya proyek pengembangan kilang minyak bumi (Refinery Development Master Plan/RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengolahan minyak dalam negeri secara signifikan.

“Dengan penggunaan B50 dan beroperasinya RDMP di Kalimantan Timur, insyaAllah kita menargetkan tidak perlu lagi melakukan impor solar pada 2026,” tambah Bahlil.

Data Kementerian ESDM mencatat, pemanfaatan biodiesel domestik sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter (kL), melampaui target 13,5 juta kL. Dari sisi ekonomi, kebijakan biodiesel ini memberikan dampak signifikan, antara lain menghemat devisa negara sebesar Rp130,21 triliun dan meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO) sebesar Rp20,43 triliun.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update