Notification

×

Iklan

Herdman Pakai AFF Cup Untuk Uji Pemain Lapis Kedua

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:35 WIB Last Updated 2026-01-13T13:42:12Z

Pelatih Timnas Indonesia yang baru, John Herdman.

Jakarta, Rakyatterkini.com – Pelatih kepala anyar tim nasional Indonesia, John Herdman, menegaskan bahwa Kejuaraan ASEAN yang akan digelar pada Juli mendatang bakal dimanfaatkan sebagai panggung pembuktian bagi para pemain pelapis.

Herdman menjelaskan, turnamen yang sebelumnya dikenal sebagai Piala AFF tersebut tidak termasuk dalam kalender resmi FIFA. Kondisi itu membuat peluang memanggil pemain-pemain utama menjadi cukup terbatas karena berpotensi tidak mendapat izin dari klub masing-masing.

Dengan keterbatasan tersebut, Herdman menilai Kejuaraan ASEAN justru menjadi momen ideal untuk mengukur kedalaman skuad Garuda serta memperluas basis pemain tim nasional.

“Turnamen yang berlangsung pada Juli hingga Agustus memiliki karakter berbeda. Akan sangat sulit memanggil pemain lapis pertama dan kedua karena mereka masih terikat agenda klub, apalagi kompetisi ini berada di luar kalender FIFA,” ujar Herdman dalam konferensi pers perdananya di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa.

Ia menekankan pentingnya memiliki kumpulan talenta yang luas agar tim nasional tetap kompetitif di berbagai ajang. Menurutnya, Kejuaraan ASEAN merupakan kesempatan tepat untuk menilai sejauh mana kedalaman sumber daya pemain Indonesia.

“Turnamen AFF memberi ruang bagi saya untuk memahami seberapa dalam kolam talenta yang dimiliki Indonesia. Selain itu, ini juga menjadi peluang bagi pemain yang belum mendapat kesempatan tampil pada agenda FIFA di bulan Maret atau Juni,” tambahnya.

Tak hanya pemain pelapis, Herdman juga berencana memanfaatkan ajang ini untuk memberi jam terbang kepada para pemain muda. Ia membandingkan situasi tersebut dengan pengalamannya saat menangani timnas Kanada di Piala Emas CONCACAF.

Selama era kepelatihannya, Kanada mencatatkan prestasi terbaik dengan menembus semifinal Piala Emas 2021, meski tanpa diperkuat sejumlah pemain bintang.

“Kami pernah berada dalam situasi serupa di CONCACAF. Saat Piala Emas, kami tidak bisa memanggil pemain seperti Alphonso Davies atau Jonathan David. Kami harus mengandalkan pemain lokal dan kumpulan talenta yang lebih luas. Dari situ, Anda bisa belajar banyak dan menilai pemain dalam kondisi kompetitif,” jelas pelatih berusia 50 tahun tersebut.

Indonesia sendiri telah berpartisipasi sebanyak 15 kali di turnamen paling bergengsi Asia Tenggara sejak pertama kali digelar pada 1996 di Singapura. Tim Merah Putih enam kali melaju ke final, namun hingga kini belum mampu meraih gelar juara.

Pada edisi terakhir tahun 2024 yang berlangsung mulai Desember, Indonesia yang masih dilatih Shin Tae-yong gagal melaju dari fase grup. Saat itu, skuad Garuda finis di peringkat ketiga dengan koleksi empat poin setelah menurunkan mayoritas pemain muda.

Turnamen tersebut menjadi ajang terakhir Shin Tae-yong bersama timnas Indonesia sebelum posisinya digantikan Patrick Kluivert pada Januari 2025.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update