Padang, Rakyatterkini.com – Galodo datang tiba-tiba, seperti kenangan buruk yang mengetuk pintu tanpa permisi. Di Batu Busuk, Kota Padang, Sumatera Barat, ia tidak hanya membawa batu dan kayu, tapi juga menggulung harapan yang selama ini dibangun perlahan.
Di Kampung Ubi, sepasang suami istri memilih tetap bertahan. Nasril (57) dan Roslaini (52) memutuskan untuk tidak meninggalkan rumah mereka, meski berada di atas aliran sungai yang kini berubah liar. Rasa aman tak pernah sepenuhnya pulih; setiap hujan, kekhawatiran menyelinap tanpa diundang.
“Kami tetap di sini,” ujar Nasril datar, seolah telah berdamai dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Nasril adalah sumando, telah menapaki hidupnya di Kampung Ubi sejak 1992. Empat kali ia menyaksikan galodo menerjang, tetapi kejadian November 2025 dan awal Januari 2026 adalah yang paling dahsyat. Dua puluh petak sawah dan ladang, tempat ia menanam ubi, cabai, jagung, dan padi, lenyap begitu saja. Padi yang telah menguning belum sempat dipanen karena hujan deras seminggu penuh yang berakhir diterjang galodo.
“Ini sudah kehendak Tuhan,” kata Nasril lirih, bukan sebagai keluhan, melainkan bentuk ikhlas yang ia pelajari dengan susah payah.
Sungai kini tak lagi mengikuti jalannya sendiri. Ia melebar, membelok, dan meninggalkan bekas luka di sepanjang bantaran. Nasril berharap pemerintah segera menormalisasi sungai, agar tanah kembali bisa ditanami dan hidup tidak hanya tentang bertahan.
“Kalau tidak bertani, bagaimana kami bertahan secara ekonomi?” gumamnya, lebih sebagai renungan daripada pertanyaan.
Ia menepis asumsi bahwa galodo ini disebabkan oleh pembalakan liar. Bukit di atas longsor karena sumber air tertutup. Tidak ada akses besar untuk mobil, tidak ada jalan mengangkut kayu—hanya alam yang bergerak di luar kendali manusia.
Bagi Roslaini, Batu Busuk lebih dari sekadar alamat. Ia adalah hidup itu sendiri. Perempuan ini menolak pindah, karena di sini ia menanam, memanen, dan meramu obat herbal dari hutan yang menjadi warisan alam.
“Kalau pindah, saya harus mulai dari nol lagi,” ujarnya. Nol yang terlalu berat untuk diulang.
Ia masih mengingat galodo 2013, saat bencana menelan korban jiwa dan ia diminta mengungsi. “Dulu ada petugas BPBD yang menjemput, sekarang tidak ada,” katanya.
Roslaini tetap di rumah. Meski sawah di depannya hanyut terbawa sungai, rumahnya tetap berdiri.
Ketegaran Nasril dan Roslaini bukan tentang menantang alam, tetapi menjaga akar mereka. Rumah masih ada, namun penyangga ekonomi hilang. Permintaan mereka sederhana: normalisasi sungai dan pengembalian tanah agar benih bisa kembali ditanam.
Bagi mereka, bertani bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah cara mencintai hidup dengan pelan, tekun, dan setia—meski galodo datang merampas segalanya.(da*)


