![]() |
| UNP hadirkan teknologi filtrasi air bersih. |
Padang, Rakyatterkini.com – Universitas Negeri Padang (UNP) menunjukkan kepeduliannya terhadap penanggulangan pascabencana melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tanggap Darurat Bencana 2025.
Program ini menghadirkan inovasi teknologi filtrasi multistage untuk air bersih dan pendekatan Geo-Medic Mapping, sebagai langkah mitigasi risiko kesehatan sekaligus pemberdayaan masyarakat terdampak di Kota Padang.
Bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, program yang berjudul “Acute Response melalui Teknologi Filtrasi Multistage Air Bersih dan Geo-Medic Mapping untuk Mitigasi Risiko Kesehatan Pascabencana serta Pemberdayaan Masyarakat di Kota Padang”.
Ini menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan air bersih, pencegahan penyakit berbasis lingkungan, serta penyediaan data spasial kesehatan untuk pengambilan keputusan cepat di lapangan.
Ketua tim PKM UNP, Phil. Dony Novaliendry, menekankan pentingnya ketersediaan air bersih pada masa tanggap darurat.
“Di kondisi darurat, masyarakat seringkali terpaksa mengonsumsi air yang sudah tercemar. Melalui teknologi filtrasi multistage, kami menyediakan air aman yang bisa langsung digunakan dan dioperasikan oleh masyarakat,” ujarnya.
Sejak awal Desember 2025, tim yang terdiri dari lima kelompok inti, melibatkan 27 dosen dan 33 mahasiswa lintas disiplin, diterjunkan ke lapangan. Pada 12 Desember 2025, Posko Tanggap Bencana didirikan di Kecamatan Nanggalo sebagai pusat koordinasi, pendampingan warga, serta distribusi logistik dan sembako.
Selain penyediaan air bersih, UNP juga menerapkan Geo-Medic Mapping, yaitu pemetaan spasial yang mengintegrasikan data kesehatan dan lingkungan untuk mengidentifikasi wilayah rawan penyakit dan kelompok rentan. Linda Rosalina, menjelaskan pentingnya pendekatan ini dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
“Pemetaan Geo-Medic Mapping membantu kami mengetahui titik risiko kesehatan, kondisi sumber air, serta kelompok rentan seperti balita dan lansia, sehingga intervensi dapat lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Di lapangan, tim melaksanakan berbagai kegiatan bersama masyarakat, mulai dari asesmen cepat kebutuhan air dan kesehatan, instalasi unit filtrasi multistage, pelatihan operasional dan perawatan alat, hingga edukasi sanitasi dan higienitas darurat.
Keterlibatan warga menjadi bagian penting dari pemberdayaan dan penguatan kapasitas lokal.
Heri Prabowo, menambahkan, tidak hanya memasang alat, tapi juga melatih masyarakat agar mampu mengelola sistem filtrasi secara mandiri. Hal ini penting agar manfaatnya berkelanjutan setelah tim kampus kembali.
Mahasiswa UNP berperan sebagai pelaksana lapangan, operator teknologi, fasilitator edukasi, serta enumerator pemetaan spasial kesehatan. Donny Fernandez, salah satu anggota tim, menyebut kegiatan ini sebagai pengalaman pembelajaran langsung yang berharga.
“Mahasiswa belajar bagaimana ilmu yang diperoleh di kampus dapat diterapkan nyata untuk membantu masyarakat di situasi darurat,” katanya.
Meski menghadapi kendala seperti akses terbatas akibat infrastruktur rusak, cuaca tidak menentu, dan kondisi psikososial masyarakat terdampak, koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, aparat desa, dan BPBD memastikan kegiatan tetap berjalan adaptif dan aman.
Kehadiran tim PKM UNP telah memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan akses air bersih, menekan risiko penyakit pascabencana, serta menumbuhkan kesadaran hidup bersih dan sehat.
Data hasil Geo-Medic Mapping juga menjadi referensi penting bagi aparat desa dalam perencanaan lanjutan. (da*)


