
RAKYATTERKINI.COM - Pengurus Daerah (PD) Satuan Relawan Indonesia Raya (SATRIA) Aceh mengajak masyarakat untuk lebih cerdas dan bijak menyikapi maraknya video serta konten hoaks bermuatan narasi bohong yang beredar luas di media sosial pasca bencana di Aceh.
Informasi sesat tersebut dinilai berpotensi memperkeruh suasana duka, memicu keresahan publik, serta merusak persatuan sosial di tengah proses pemulihan.
Sekretaris PD SATRIA Aceh, Mahfudz Y. Loethan, mengatakan dalam beberapa hari terakhir beredar sejumlah konten yang diduga kuat merupakan hasil rekayasa, termasuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang sengaja dibangun untuk membentuk opini negatif di tengah masyarakat.
“Ada video yang direkayasa seakan-akan terjadi konflik antara TNI dan Polri di lapangan, seolah truk bantuan ditahan lalu TNI datang memarahi oknum Polri. Ini tidak benar dan sangat berbahaya karena membangun persepsi keliru,” ujar Mahfudz, Minggu (28/12/2025).
Selain itu, Mahfudz juga menyinggung beredarnya narasi palsu lain, seperti konten rekayasa AI yang menyebut seolah-olah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan voting atau intervensi khusus terkait penanganan banjir Aceh. Informasi semacam ini dipastikan tidak berdasar dan menyesatkan.
“Ini contoh nyata bagaimana teknologi AI disalahgunakan. Ada narasi seakan-akan PBB melakukan voting soal Aceh, padahal itu tidak pernah ada. Informasi seperti ini bisa memicu kegaduhan, kecurigaan, bahkan merusak kepercayaan publik,” tegasnya.
Menurut Mahfudz, di tengah situasi duka dan kerja-kerja kemanusiaan yang masih berlangsung, masyarakat justru dihadapkan pada banjir informasi menyesatkan yang diproduksi untuk mengejar sensasi, viralitas, dan keuntungan semata, tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya.
Ia menegaskan pentingnya nilai tabayyun dalam menyikapi setiap informasi yang diterima, terutama di era digital yang memungkinkan manipulasi visual, suara, dan narasi dilakukan dengan sangat mudah.
“Dalam ajaran agama kita diajarkan untuk bertabayyun, memastikan kebenaran sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi. Jangan sampai jari kita justru memperpanjang penderitaan dengan menyebarkan kabar yang belum jelas sumber dan faktanya,” kata Mahfudz.
Mahfudz mengingatkan bahwa dampak negatif konten hoaks dan informasi sesat sangat luas, mulai dari memicu kepanikan, menumbuhkan prasangka, memperbesar ketegangan sosial, mengganggu distribusi bantuan, hingga menurunkan semangat relawan serta petugas yang bekerja di lapangan.
Ia juga mengajak masyarakat Aceh untuk saling menjaga persatuan dan tidak membuka ruang bagi oknum konten kreator yang memanfaatkan situasi bencana demi kepentingan pribadi.
“Jangan langsung di-share. Kita sedang berduka. Jangan membuka jalan bagi konten sesat yang hanya mengejar viral. Yang kita butuhkan hari ini adalah suasana sejuk, empati, dan kebersamaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Mahfudz mengimbau masyarakat agar tetap percaya kepada pemerintah dan seluruh unsur terkait yang saat ini sedang bekerja membenahi penanganan bencana secara bertahap.
“Mari saling menjaga persatuan. Percayakan kepada pemerintah dan aparat yang sedang bekerja membenahi penanganan bencana ini. Prosesnya memang tidak instan, tetapi akan jauh lebih cepat jika suasana tetap kondusif dan saling percaya,” katanya.
Menurutnya, di era digital saat ini, tabayyun bukan hanya kewajiban moral dan agama, tetapi juga tanggung jawab sosial untuk menjaga stabilitas dan kedamaian di tengah masyarakat.
“Jika informasi belum jelas, lebih baik ditahan daripada disebarkan. Diam yang menenangkan jauh lebih bermanfaat daripada viral yang menyesatkan,” pungkasnya. (rel)

