Notification

×

Iklan

147 Ribu Rumah Rusak, Aceh, Sumut, dan Sumbar Dipulihkan

Rabu, 17 Desember 2025 | 14:13 WIB Last Updated 2025-12-17T07:13:00Z

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan

Aceh, Rakyatterkini.com – Pemerintah terus mempercepat upaya pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Hingga Selasa (16/12/2025), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 147.217 rumah mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan hingga berat. Data ini menjadi acuan penting untuk merencanakan pembangunan hunian sementara maupun permanen bagi masyarakat terdampak.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa pendataan dilakukan secara rinci dan terverifikasi. Hal ini untuk memastikan proses pemulihan berjalan tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Data ini menjadi dasar perencanaan pembangunan hunian, baik untuk relokasi maupun di lokasi eksisting, khususnya untuk rumah rusak ringan,” kata Abdul Muhari dalam konferensi pers di Kantor Gubernur Aceh.

Rumah yang rusak ringan masih bisa dibangun kembali di lokasi semula dengan penataan kawasan yang lebih aman. Sementara itu, rumah rusak berat dan yang berada di zona rawan akan dialihkan ke lokasi relokasi yang lebih layak dan aman.

BNPB bersama kementerian/lembaga terkait serta pemerintah daerah saat ini mempercepat pendataan lanjutan dan identifikasi lokasi hunian. “Kami berharap pendataan ini bisa difinalisasi dalam pekan ini, termasuk penentuan lokasi hunian sementara dan tetap. Presiden telah mengarahkan agar proses ini dipercepat sehingga pembangunan bisa segera dimulai,” ujarnya.

Secara rinci, di Provinsi Aceh tercatat 106.058 rumah terdampak, dengan rincian 46.779 rusak ringan, 22.951 rusak sedang, dan 36.328 rusak berat. Tiga kabupaten dengan rumah rusak terbanyak adalah Aceh Utara (36.964 unit), Aceh Timur (18.914 unit), dan Aceh Tamiang (10.720 unit).

Di Sumatra Utara, total rumah rusak mencapai 28.708 unit, terdiri atas 19.651 rusak ringan, 3.899 rusak sedang, dan 5.158 rusak berat. Dari rumah rusak berat, 1.068 unit dilaporkan hilang terbawa banjir. Kabupaten yang terdampak paling parah antara lain Langkat (11.273 unit), Tapanuli Tengah (6.481 unit), dan Tapanuli Selatan (4.624 unit).

Sementara itu, di Sumatra Barat tercatat 12.451 rumah rusak, dengan rincian 6.933 rusak ringan, 2.959 rusak sedang, dan 2.559 rusak berat. Dampak paling signifikan terjadi di Kota Padang (5.497 unit), diikuti Kabupaten Padang Pariaman (3.490 unit) dan Kabupaten Agam (1.540 unit).

Selain kerusakan rumah, BNPB juga mencatat jumlah korban jiwa. Hingga Selasa (16/12/2025), total korban meninggal akibat banjir dan longsor di tiga provinsi ini mencapai 1.053 orang. Abdul Muhari menjelaskan, jumlah korban bertambah 23 jiwa dari hari sebelumnya, dengan rincian 17 di Aceh Tamiang, 1 di Aceh Utara, dan 5 di Tapanuli Tengah.

Secara kumulatif, korban meninggal dari Aceh 449 jiwa, Sumatra Utara 360 jiwa, dan Sumatra Barat 244 jiwa. Sebanyak 200 orang masih dinyatakan hilang dan tengah dalam proses pencarian, masing-masing 31 di Aceh, 79 di Sumatra Utara, dan 90 di Sumatra Barat.

Jumlah pengungsi saat ini tercatat 606.040 jiwa. Pemerintah memastikan kebutuhan dasar mereka—termasuk pangan, air bersih, layanan kesehatan, hingga dukungan psikososial—terus terpenuhi melalui koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dan mitra kemanusiaan.

Abdul Muhari menegaskan, seluruh langkah pendataan, perencanaan hunian, dan penanganan korban merupakan bagian dari upaya negara hadir secara menyeluruh, tidak hanya pada fase tanggap darurat, tetapi juga dalam pemulihan jangka menengah dan panjang.

“Pemerintah berkomitmen memastikan masyarakat terdampak dapat kembali menata kehidupan mereka di lingkungan yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana,” ujarnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update