Notification

×

Iklan

Kalapas Narkotika Sawahlunto Ungkap Kendala Pembinaan Warga Binaan, Minta Dukungan Pemko dan CSR

Senin, 17 November 2025 | 18:44 WIB Last Updated 2025-11-17T11:44:58Z

Kalapas Narkotika Sawahlunto, Ressy Setiawan bersama jurnalis Sawahlunto.

Sawahlunto, Rakyatterkini.com — Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Sawahlunto, Ressy Setiawan, mengungkapkan sejumlah kendala dalam pelaksanaan program pembinaan bagi warga binaan. 

Itu disampaikannya dalam jumpa pers, Senin (17/11/2025). Ressy, yang telah lima bulan menjabat sebagai Kalapas di Sawahlunto, menegaskan perlunya dukungan pemerintah daerah dan pihak swasta untuk memastikan pembinaan berjalan optimal.

Ressy menjelaskan pada 2025 Lapas Narkotika Kandi mengembangkan program keterampilan berbasis produk lokal melalui pembuatan Batik Tulis dan Cetak dengan merek Batik Tangsi. 

Motif batik tersebut terinspirasi dari sejarah Kota Sawahlunto sebagai bekas kota tambang yang pada masa kolonial banyak dihuni tahanan yang ditempatkan di “tangsi” atau sel-sel penjajah.

“Motif Batik Tangsi ini menampilkan unsur jeruji besi dan kawat berduri sebagai simbol sejarah para tahanan pada masa penjajahan. Ini menjadi identitas khas yang kami kembangkan sebagai hasil pembinaan warga binaan,” kata Ressy.

Program sejauh ini mendapat respons positif dari masyarakat. Produk Batik Tangsi mulai dikenal lewat keikutsertaan pada Festival Batik di SILO dalam rangkaian Sawahlunto International Music Festival (Simfest), serta melalui pemasaran daring di platform Shopee.

Namun, Ressy menegaskan tantangan besar akan muncul mulai 2026. Sesuai kebijakan Kementerian Hukum dan HAM, pembinaan warga binaan harus dilaksanakan secara mandiri oleh masing-masing lapas tanpa ketergantungan anggaran internal.

“Dengan aturan baru tersebut, tentu kami menghadapi kendala pendanaan. Pembinaan harus tetap berjalan, sementara jumlah warga binaan saat ini mencapai 518 orang. Banyak keterampilan yang ingin kami berikan agar mereka memiliki bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Ressy menyatakan, Lapas membutuhkan dukungan dari Pemkot Sawahlunto, terutama Dinas Sosial, BLK serta partisipasi dunia usaha melalui program CSR untuk keberlanjutan pelatihan kemandirian bagi warga binaan.

“Kami berharap kerja sama ini dapat terwujud. Produk Batik Tangsi memiliki potensi besar dan nilai historis kota ini. Dengan dukungan semua pihak, pembinaan dapat berjalan efektif dan hasilnya diterima pasar,” tutupnya. (Benny)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update