Notification

×

Iklan

Universitas Andalas Dorong Hilirisasi Agroindustri Berkeadilan

Jumat, 31 Oktober 2025 | 16:13 WIB Last Updated 2025-10-31T09:48:41Z

Fateta Unand sukses menyelenggarakan Seminar

Padang, Rakyatterkini.com – Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas (Fateta Unand) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Teknologi Pertanian (SINTETA) 2025, forum ilmiah tahunan yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. 

Tahun ini, SINTETA mengangkat tema sinergi antara kearifan lokal, inovasi teknologi, dan hilirisasi sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan serta keberlanjutan pertanian nasional.

Ketua Pelaksana, Neswati, mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan berskala nasional ini. Ia menekankan bahwa SINTETA 2025 bukan sekadar forum ilmiah, melainkan wadah kolaborasi untuk menghadapi tantangan global terkait efisiensi sumber daya, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan.

Dekan Fateta, Alfi Asben, dalam sambutannya menyoroti pentingnya kerja sama lintas sektor antara akademisi dan industri. “SINTETA menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk menunjukkan kontribusi nyata melalui riset dan inovasi yang berdampak pada transformasi pertanian nasional,” ujarnya.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Aidinil Zetra, Sekretaris Rektor Universitas Andalas, mewakili Rektor Unand. Ia menegaskan komitmen universitas dalam mendorong riset inovatif yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. 

“Pertanian adalah tulang punggung ekonomi bangsa, dan kampus harus menjadi motor penggerak inovasi di sektor ini,” jelasnya.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber nasional, antara lain Desrial, Feri Arlius, Efri Mardawati, Kiwi Aliwarga, dan Muhammad Makky. Acara juga diikuti dosen, mahasiswa, serta perwakilan Kelompok Wanita Tani dari Sumatera Barat.

Sesi pertama dibuka oleh Feri Arlius yang membawakan tema “Kearifan Lokal dan Teknologi Informasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam.” Ia menekankan bahwa kearifan lokal dan teknologi bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan kekuatan yang saling melengkapi.

“Teknologi tanpa kearifan lokal hanya menghasilkan kemajuan tanpa makna, sedangkan kearifan lokal tanpa teknologi akan tertinggal di era modern,” ungkapnya.

Feri mencontohkan praktik kearifan lokal, seperti parak di Sumatera Barat, sasi di Maluku, awig-awig di Bali, dan hutan larangan di Riau, yang memiliki prinsip konservasi dan keseimbangan sosial. 

Dia menekankan pengelolaan sumber daya berbasis teknologi harus tetap berlandaskan nilai sosial dan etika lokal, dengan kolaborasi antara masyarakat adat, akademisi, dan pemerintah sebagai kunci keberlanjutan.

Menurut Feri, teknologi digital seperti IoT, big data, dan AI dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan dan hasil pertanian, namun keberhasilannya tergantung pada kemampuan adaptasi sosial masyarakat serta kebijakan yang mendukung kearifan lokal.

Sesi kedua diisi oleh Efri Mardawati dari Universitas Padjadjaran dengan topik “Inovasi Teknologi Konversi Biomassa melalui Penerapan Biorefineri dalam Hilirisasi Bioproduk Agroindustri Berkelanjutan.” 

Ia mengajak peserta menyoroti potensi besar biomassa Indonesia, mulai dari limbah pertanian, residu kehutanan, hingga sampingan industri agro yang dapat diolah menjadi bioenergi, bioplastik, bahan kimia hijau, dan pangan fungsional melalui pendekatan biorefineri.

Efri menekankan bahwa hilirisasi tidak boleh hanya menguntungkan industri besar. “Hilirisasi harus berkeadilan. Teknologi tepat guna perlu dikembangkan agar petani dan pelaku usaha kecil dapat ikut serta dalam rantai nilai. Di situlah keadilan ekonomi dan keberlanjutan sosial tercipta,” jelasnya.

Ia mencontohkan model biorefineri skala kecil, seperti pengolahan limbah tandan kosong sawit menjadi pupuk organik, atau pemanfaatan kulit kopi menjadi biochar dan bahan penjernih air. Keberhasilan hilirisasi berkeadilan membutuhkan dukungan sinergis antara pemerintah, akademisi, dan industri melalui riset, transfer teknologi, dan kebijakan pendanaan.

Melalui seluruh sesi diskusi, SINTETA 2025 menegaskan satu pesan utama: masa depan pertanian Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kekuatan budaya lokal dan keadilan manfaat bagi masyarakat.

Sinergi antara kearifan lokal, inovasi teknologi, dan hilirisasi yang adil menjadi fondasi bagi pertanian yang tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update