Notification

×

Iklan

Nasi Terkontaminasi Jadi Penyebab Keracunan Massal di Kuningan

Sabtu, 25 Oktober 2025 | 19:13 WIB Last Updated 2025-10-25T12:13:00Z

Siswa Luragung Kuningan saat mengalami keracunan.

Jakarta, Rakyatterkini.com– Penyebab keracunan massal yang menimpa puluhan siswa di Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, akhirnya terungkap. Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan bahwa sumber racun bukan berasal dari lauk-pauk, melainkan dari nasi yang terkontaminasi bakteri Bacillus cereus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kuningan, Edi Martono, mengungkapkan hasil tersebut setelah pihaknya menerima laporan uji laboratorium dari Bandung.

“Dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya bakteri Bacillus cereus pada sampel nasi. Sementara pada lauk-pauk seperti tempe goreng, ayam kecap, dan acar timun wortel tidak ditemukan bakteri berbahaya,” jelas Edi, Jumat (24/10/2025).

Menurut Edi, bakteri tersebut kemungkinan muncul karena nasi terlalu lama dibiarkan di tempat terbuka sebelum dikonsumsi. Kontaminasi diduga terjadi saat makanan masih berada di dapur penyedia sebelum didistribusikan.

“Bakteri ini mudah berkembang jika nasi dibiarkan terlalu lama di ruang terbuka dan terkena oksigen. Kemungkinan nasi telat dikonsumsi atau terlalu lama diletakkan di luar. Sampel yang kami uji diambil langsung dari dapur penyedianya,” terangnya.

Bakteri Bacillus cereus diketahui dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare dalam waktu singkat setelah dikonsumsi. Meski demikian, Dinkes memastikan seluruh siswa yang sempat dirawat kini telah pulih.

“Gejala yang muncul tergantung daya tahan tubuh masing-masing. Alhamdulillah semuanya sudah membaik. Gejala seperti muntah dan diare memang merupakan reaksi alami tubuh untuk mengeluarkan bakteri. Yang perlu diwaspadai hanya jika muntah dan diare berlangsung terus-menerus hingga menyebabkan dehidrasi,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan Kuningan akan melakukan survei ke seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memastikan setiap penyedia makanan telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

“Sebelum maupun sesudah operasional, setiap penyedia makanan wajib memiliki sertifikat SLHS. Tim kami akan melakukan inspeksi terhadap kebersihan lingkungan, mulai dari tempat cuci, area memasak, hingga proses pengemasan,” tambahnya.

Kasus keracunan ini terjadi pada Jumat (3/10/2025), ketika 84 siswa di Luragung mengalami gejala mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Beruntung, seluruh siswa telah mendapatkan perawatan dan kini dalam kondisi sehat.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update