Jakarta, Rakyatterkini.com – Lonjakan titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Barat terus meluas dan kini mulai mencapai wilayah perbatasan dengan Malaysia. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak, mengingat posisi geografis Kalbar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
“Kondisi sebaran asap di Indonesia pada 29 Juli pukul 16.00 WIB menunjukkan bahwa asap dari Kalimantan Barat telah menjangkau Laut Natuna dan sebagian bahkan mulai mendekati wilayah perbatasan,” ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penanganan Darurat Bencana Asap Akibat Karhutla yang digelar di Kantor Gubernur Kalbar, Minggu (3/8/2025).
Data dari satelit memperlihatkan tren kenaikan signifikan titik panas di Kalbar, dengan 108 titik terdeteksi pada 29 Juli, kemudian 19 titik pada 30 Juli, dan 26 titik pada 31 Juli. Peningkatan ini menandakan urgensi penanganan kebakaran hutan dan lahan secara lebih masif.
“Upaya mitigasi, seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), harus terus digencarkan untuk menahan perluasan kebakaran dan potensi asap lintas batas,” lanjutnya.
Selama tujuh hari pelaksanaan OMC, yakni dari 24 hingga 30 Juli, sebanyak 17 sorti penerbangan dilakukan untuk menyemai 17.000 kg garam (NaCl) ke awan-awan potensial. Hasilnya, terbentuk hujan buatan yang membantu meningkatkan kelembapan tanah, dengan tambahan volume air mencapai 182,3 juta meter kubik.
Meski demikian, hasil pantauan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menunjukkan bahwa tinggi muka air tanah (TMAT) di sejumlah kawasan rawan karhutla masih berada dalam kategori yang mengkhawatirkan.
Wilayah Kubu Raya menjadi daerah paling rentan, dengan dua dari sembilan stasiun pemantauan TMAT menunjukkan status berbahaya. Satu stasiun tercatat sangat rawan (kedalaman 60–80 cm), dan delapan lainnya berada di tingkat rawan (40–60 cm).
“Kondisi ini merupakan indikator penting dalam pengendalian karhutla. Ketika muka air tanah terlalu dalam, lahan menjadi sangat mudah terbakar dan sulit untuk dipadamkan,” jelas Dwikorita.
Selain Kubu Raya, wilayah-wilayah lain juga menunjukkan potensi risiko, meski dalam skala lebih kecil. Di Sintang, dua stasiun atau 15 persen termasuk kategori rawan. Sementara itu, Ketapang mencatat tiga stasiun (50%) berada dalam kategori rawan, dan di Sambas, tiga stasiun (50%) berada di tingkat rawan, serta satu stasiun (17%) tergolong sangat rawan.
Sebagai respons terhadap peningkatan karhutla, kolaborasi lintas lembaga dari BMKG, BNPB, Pemerintah Provinsi, hingga TNI telah memperluas cakupan Operasi Modifikasi Cuaca, termasuk pelaksanaan pada malam hari.
Mengingat luasnya wilayah Kalbar, pengoperasian armada udara untuk OMC juga dipertimbangkan agar lebih efektif menjangkau area timur provinsi, seperti Sintang dan Putussibau. Namun, rencana ini masih menunggu kesiapan fasilitas pendukung di bandara-bandara terkait agar operasi dapat berjalan optimal.(da*)


